Perbincangan politik Tanah Air kerap kali menyajikan pola-pola unik yang menarik untuk diikuti. Ada anggapan bahwa huruf S merepresentasikan angka delapan, mengacu pada urutan presiden. Dalam kerangka pemikiran ini, nama Sudaryono sering disebut-sebut memiliki potensi besar pada masa depan, bahkan diposisikan sebagai kandidat untuk nomor sepuluh.
Namun, di luar spekulasi angka tersebut, Sudaryono kini tengah mengemban tugas konkret yang sangat strategis. Selasa lalu, ia ditunjuk memimpin Badan Gizi Nasional (BGN), menggantikan Nanik S. Deyang. Ini bukan sekadar rotasi biasa. BGN adalah lembaga setingkat menteri dengan anggaran yang jauh lebih besar dibanding kementerian pada umumnya, menjadi pusat komando kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Recanakan yang Paham Gizi dan Pertanian
Mengapa sosok Sudaryono dianggap pas? Ia bukan orang baru dalam tata kelola pangan. Hampir dua tahun menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian memberinya bekal memadai untuk memahami keterkaitan antara program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Latar belakang pribadinya juga mendukung visi tersebut. Lahir dari keluarga desa di Tambirejo, Toroh, Grobogan—sebuah daerah yang kala itu tergolong miskin—Sudaryono tumbuh sebagai sosok yang ia sebut sebagai "anak telur". Konsumsi telur yang cukup di masa kecil, hasil dari beternak ayam di pekarangan orang tuanya, membekas nutrisi yang baik bagi tumbuh kembangnya.
Gizi yang memadai itu mengantarnya ke sekolah unggulan Taruna Nusantara, lulus sebagai yang terbaik, melanjutkan studi di Jepang, dan meraih doktor dari IPB Bogor. Kini, "anak telur" pintar tersebut dipercaya mengurus program raksasa yang mengelola dana ratusan triliun rupiah.
Standardisasi Dapur dan Investasi Membengkak
Di lapangan, kepemimpinan Sudaryono langsung dihadapkan pada realitas teknis dan bisnis. Para pengusaha pengelola dapur MBG di Jawa Tengah dan Jawa Timur melihat adanya perubahan standar yang signifikan dalam sebulan terakhir.
Salah seorang pengusaha yang mengelola empat dapur mengungkapkan bahwa biaya investasi awal kini melonjak drastis. Jika sebelumnya modal Rp 700 hingga Rp 800 juta sudah cukup, kini angkanya membumbung menjadi Rp 1,2 miliar. Peningkatan ini disebabkan oleh aturan ketat mengenai kebersihan dan peralatan.
"Semua yang berpotensi menjadi sarang jamur dilarang," ujar seorang pengusaha. Pelet untuk karung beras tidak boleh lagi dari kayu, harus stainless steel. Begitu pula dengan telenan atau alas potong, yang kini wajib berbahan plastik dan bukan kayu.
Perubahan paling kompleks terjadi pada pengolahan limbah cair. Sistem kini mewajibkan lima tahap pengendapan air. Pada tahap akhir, air limbah harus dialirkan ke kolam yang berisi ikan hidup—sebuah indikator biologis bahwa air tersebut sudah bebas racun.
Secara bisnis, kenaikan standar ini memperpanjang masa pengembalian modal (break-even point). Dari delapan bulan, kini investor butuh waktu sekitar 1,5 tahun untuk balik modal. Meski begitu, pelaku usaha masih melihat prospek yang menjanjikan di balik kebijakan baru ini.
Era Baru dan Dampak Ekonomi Hilir
Sudaryono memasuki wilayah yang penuh liku. Namun, ia memiliki posisi strategis sebagai salah satu kader sejati Prabowo, yang akrab disebut sebagai kelompok "Hambalang Boys". Kedekatannya dengan Presiden memudahkannya memahami esensi MBG: tidak hanya memberi gizi anak, tetapi juga memutar roda ekonomi rakyat kecil.
Jika program ini berjalan sukses di bawah kendalinya, dampaknya akan luar biasa. Uang ratusan miliar dari APBN tidak hanya hilang begitu saja, melainkan berputar di tingkat desa. Petani mendapat pasokan padi, peternak menjual telur dan ayam, serta nelayan dan pekebun mendapat pasar pasti untuk produknya.
Keluar dari Nanik S. Deyang pun memberikan pelajaran berharga. Deyang dinilai telah melakukan "pembersihan" internal yang tegas saat menjadi Wakil Kepala BGN, terutama dalam mengawasi operasional dapur. Sikap kritisnya yang kerap melakukan inspeksi mendadak membuat beberapa pihak tidak nyaman, namun berujung pada penegakan hukum terhadap tiga pimpinan BGN yang kini menjadi tersangka.
Sudaryono tidak memiliki waktu luang untuk uji coba. Banyak petani dan peternak yang nasibnya kini bergantung pada kelanjutan program ini. Fakta bahwa harga telur, sayur, dan ayam anjlok saat liburan sekolah dan MBG diliburkan, menjadi bukti nyata betapa program ini telah menyatu dengan nadi ekonomi pedesaan. Tangan seorang yang cerdas, tegas, dan dekat dengan pusat kekuasaan kini dibutuhkan untuk memastikan program ini tetap pada jalurnya.



