{ "title": "Akhirnya Resmi: Zinedine Zidane Latih Timnas Prancis, Kontrak Sampai Piala Dunia 2030", "excerpt": "Setelah bertahun-tahun dikaitkan dengan kursi kepelatihan Les Bleus, Zinedine Zidane akhirnya resmi ditunjuk sebagai pelatih Timnas Prancis menggantikan Didier Deschamps, dengan kontrak empat tahun hingga Piala Dunia 2030.", "body_html": "

Ada kalanya sesuatu yang lama ditunggu justru terasa lebih berarti ketika benar-benar tiba. Begitu pula yang dirasakan publik sepak bola Prancis ketika nama Zinedine Zidane akhirnya diumumkan secara resmi sebagai pelatih kepala Timnas Prancis, setelah bertahun-tahun spekulasi berputar tanpa kepastian.

Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) mengonfirmasi bahwa Zidane akan menjadi penerus Didier Deschamps, membuka babak baru bagi tim yang selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan sepak bola paling kaya talenta di dunia.

Bagi banyak orang Prancis, ini bukan sekadar soal pergantian jabatan. Ini adalah kembalinya sosok yang dulu membawa negeri itu ke puncak dunia sebagai pemain, kini dipercaya mengulang cerita serupa dari luar garis lapangan.

Penantian yang Akhirnya Berujung

Kepastian ini disampaikan langsung dalam konferensi pers yang digelar FFF. Presiden federasi, Philippe Diallo, memperkenalkan Zidane sebagai nakhoda baru Les Bleus.

Berdasarkan keterangan resmi yang dipaparkan dalam acara tersebut, Zidane akan mulai bertugas pada 1 Agustus mendatang. Ia terikat kontrak selama empat tahun, yang berarti akan mengawal Prancis hingga Piala Dunia 2030 usai digelar.

Sesungguhnya, penunjukan ini tidak benar-benar mengejutkan. Sudah beberapa tahun terakhir nama Zidane selalu masuk daftar utama kandidat pengganti Deschamps. Bahkan semasa masih menangani Real Madrid, banyak pihak sudah menduga bahwa cepat atau lambat pria berusia 54 tahun itu akan kembali ke tanah kelahirannya untuk mengisi kursi pelatih tim nasional.

Rencana itu memang sempat tertunda beberapa kali. Namun setelah Deschamps memutuskan mengakhiri masa baktinya usai Piala Dunia 2026, pintu yang selama ini tertutup akhirnya terbuka.

"Saya Hanya Menunggu Satu Pekerjaan"

Dalam momen perkenalannya, Zidane tak berusaha menutupi rasa harunya. Ia mengaku bahwa posisi ini adalah sesuatu yang benar-benar ia nantikan selama ini.

"Saya sudah sering mengatakannya: tidak ada yang lebih indah daripada tim nasional Prancis. Menjadi pelatih tim nasional adalah kebahagiaan sekaligus kebanggaan luar biasa," ujar Zidane, sebagaimana disampaikan dalam konferensi pers FFF.

Ia bahkan mengungkap bahwa dalam beberapa tahun terakhir, dirinya sengaja menepis berbagai tawaran melatih klub karena sudah memiliki satu target yang jelas.

"Dalam empat sampai lima tahun terakhir saya menolak banyak tawaran. Setelah Real Madrid, saya hanya menginginkan satu pekerjaan: menjadi pelatih tim nasional Prancis."

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan menerima Les Bleus bukan sesuatu yang diambil secara tiba-tiba, melainkan cita-cita yang sudah lama ia rawat.

Dari Pahlawan di Lapangan ke Arsitek di Pinggir Lapangan

Nama Zidane sudah lama melekat erat dengan sejarah sepak bola Prancis. Sebagai pemain, ia adalah simbol dari generasi emas yang dikenang hingga kini.

Pada Piala Dunia 1998, dua golnya lewat sundulan di partai final menjadi penentu kemenangan Prancis atas Brasil, mengantarkan negara itu meraih gelar juara dunia untuk pertama kalinya.

Dua tahun berselang, ia kembali memimpin Les Bleus menjadi juara Piala Eropa 2000, menegaskan dominasi Prancis di kancah sepak bola global saat itu.

Kariernya bersama tim nasional memang berakhir dengan cara yang dramatis, saat ia menerima kartu merah pada final Piala Dunia 2006 akibat insiden sundulan ke arah Marco Materazzi. Namun peristiwa itu tak pernah mengurangi posisinya sebagai salah satu pemain terbesar yang pernah dimiliki Prancis.

Hampir dua dekade setelah laga terakhirnya bersama Les Bleus, Zidane kini kembali, kali ini dengan peran yang sama sekali berbeda.

Warisan Besar dari Deschamps

Tugas pertama yang menanti Zidane bukan perkara ringan. Ia menggantikan Deschamps, sosok yang selama 14 tahun menjadi jangkar kestabilan Timnas Prancis.

Di bawah kepemimpinan Deschamps, Prancis berhasil meraih sederet pencapaian besar:

  • Juara Piala Dunia 2018

  • Juara UEFA Nations League 2021

  • Finalis Piala Dunia 2022

  • Konsisten menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola internasional

Sayangnya, perjalanan terakhir Deschamps di Piala Dunia 2026 harus berakhir dengan hasil yang kurang memuaskan, setelah Prancis hanya finis di posisi keempat.

Sebelum turnamen itu digelar, Deschamps sebenarnya sudah mengumumkan niatnya untuk pensiun dari kursi pelatih setelah turnamen berakhir. Artinya, proses peralihan menuju era Zidane memang sudah direncanakan sejak lama.

Menatap 2030 dengan Target Jelas

Kontrak berdurasi empat tahun menunjukkan bahwa FFF tidak sekadar mencari solusi jangka pendek. Zidane diberi tanggung jawab besar: membangun generasi baru sekaligus mengejar dua target utama, yaitu Piala Eropa 2028 dan Piala Dunia 2030.

Dengan skuad yang masih diperkuat sejumlah pemain kelas dunia seperti Kylian Mbappe, Eduardo Camavinga, Aurélien Tchouaméni, William Saliba, hingga Désiré Doué, Zidane dinilai memiliki modal kuat untuk merancang tim juara.

Namun tantangan sesungguhnya bukan hanya soal meraih kemenangan di lapangan, melainkan bagaimana menjaga proses regenerasi agar Prancis tetap menjadi kekuatan dominan dalam jangka panjang.

Mbappe Tetap Dipercaya Sebagai Kapten

Salah satu pertanyaan besar yang muncul begitu Zidane resmi ditunjuk adalah soal masa depan ban kapten Timnas Prancis.

Sempat beredar spekulasi bahwa Zidane akan menunjuk sosok baru sebagai kapten, menyusul berbagai kabar mengenai dinamika ruang ganti selama Piala Dunia 2026. Namun sejumlah laporan menyebutkan bahwa Zidane pada akhirnya memilih mempertahankan Kylian Mbappe di posisi tersebut.

Keputusan ini sekaligus menjadi sinyal kepercayaan penuh kepada penyerang Real Madrid itu sebagai figur sentral dalam proyek baru Timnas Prancis.

Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Sepanjang Piala Dunia 2026, Mbappe tampil luar biasa dengan menutup turnamen sebagai pencetak gol terbanyak, mengoleksi 10 gol sekaligus mencatatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.

Ketimbang melakukan perombakan besar-besaran, Zidane tampak lebih memilih menjaga kesinambungan skuad, sambil perlahan membangun identitas permainan baru.

Menyongsong Babak Baru

Penunjukan Zinedine Zidane bukan sekadar pergantian nama di bangku pelatih. Ini adalah momen ketika salah satu ikon terbesar sepak bola Prancis kembali mengenakan lambang ayam jantan di dadanya, kali ini dari sisi lain lapangan.

Sebagai pemain, ia pernah mengangkat trofi Piala Dunia dan Piala Eropa. Sebagai pelatih, ia datang membawa reputasi tiga gelar Liga Champions bersama Real Madrid serta pengalaman menangani deretan pemain terbaik dunia.

Kini, perhatian publik tertuju pada satu pertanyaan besar: mampukah Zidane menuliskan babak emas berikutnya dalam sejarah Timnas Prancis?

Jawabannya baru akan mulai terlihat ketika era barunya resmi dimulai pada Agustus mendatang, membawa serta harapan baru yang kembali menyelimuti sepak bola Prancis.

", "category_slug": "umum" }