Jika sebuah alat ukur bisa menilai tensi politik bangsa kita saat ini, jarumnya mungkin sudah bergetar di angka kritis. Bisa jadi berada di kisaran 38 derajat, bahkan lebih. Panasnya situasi ini seringkali tidak datang dari lapangan, melainkan dari layar genggaman kita.
Bagi para pelaku usaha, membuka media sosial akhir-akhir ini bisa jadi obat penambah darah tinggi. Sepak bola memang menyenangkan ketika kita memihak satu tim, namun politik bukanlah arena pertandingan untuk dijadikan ajang fanatisme buta. Terlalu larut dalam arus informasi tanpa filter hanya akan membuat emosi memuncak.
>Salah satu contoh nyata dari kegaduhan ini adalah beredarnya isu penyelidikan terhadap Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Berita ini berkembang pesat di media sosial, terkait dengan penetapan Febrie Adriansyah, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Korupsi, sebagai tersangka pencucian uang.
>Faktanya, polisi dari Satuan Pemberantasan Korupsi Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia memang menemukan barang bukti yang mencengangkan saat menggeledah rumah Febrie di Sentul, Bogor. Mereka menyita emas batangan sebanyak 74 kilogram dan uang asing dengan total nilaiRp 476 miliar.
>Spekulasi politik mulai merebak ketika Febrie mengeluarkan pernyataan bahwa itu bukan uangnya dan bahwa uang tersebut milik pihak lain. Karena tidak ada bantahan langsung dari pihak yang disebut-sebut dalam spekulasi tersebut, isu ini terus bergulir menjadi pergunjingan publik. Di sini, kearifan untuk tidak serta-merta mempercayai informasi menjadi sangat penting. Anggap saja sebagai hiburan semata, karena benar atau salahnya isu tersebut jarang memberi dampak langsung bagi kehidupan kita sehari-hari.
>Kita juga perlu mewaspadai narasi tentang perpecahan di dalam istana. Sekarang ini beredar cerita tentang adanya dua kubu yang saling bersaing. Di satu sisi ada Prof Dr Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR yang disebut sebagai tangan kanan Presiden bidang politik. Di sisi lain ada Sjafrie Sjamsoeddin sebagai tangan kanan bidang keamanan.
>Jika kita menilik sejarah, pola seperti ini sebenarnya bukan barang baru. Sejak zaman kerajaan Tiongkok kuno hingga era Presiden Soeharto dulu, dinamika serupa selalu ada. Orang-orang di sekitar pusat kekuasaan seringkali dianggap atau ingin dipandang sebagai figur yang paling dekat dan paling dipercaya oleh pemimpin.
>Dulu, banyak yang mengira Ali Murtopo adalah orang kepercayaan utama Pak Harto di bidang politik, sementara Sudjono Humardani dipercaya dalam hal spiritual. Namun, kebenarannya terungkap jauh kemudian. Dalam buku otobiografinya, Pak Harto menjelaskan bahwa justru Sudjonolah yang berguru kebatinan kepadanya. Ali Murtopo pun, pada akhirnya, bisa digeser begitu saja. Ini membuktikan bahwa realita di dalam kekuasaan seringkali berbeda jauh dari isu yang berkembang di luar—atau dalam bahasa Madura, fenomena ini disebut "wat menggawat", sesuatu yang sengaja dibuat menjadi menggawatkan.
>Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap? Cara paling ampuh untuk menghindari jebolan informasi yang memicu kecemasan adalah dengan tetap produktif. Fokuslah pada pekerjaan dan usaha kita. Tetapkan target yang lebih tinggi dan berusahalah mencapainya. Politik tidak akan bisa menyelamatkan bisnis kita dari kesulitan; hanya kerja keras dan strategi kita sendiri yang bisa melakukannya.
>Gejolak di media sosial tampaknya sudah membuat sebagian pihak bertindak berlebihan. Ada pusat perbelanjaan yang mulai memasang pagar lebih tinggi dari biasanya, mungkin sebagai antisipasi terhadap situasi yang mereka khawatirkan.
>Kita harus ingat bahwa media sosial saat ini bukan sekadar wadah curhat, tapi juga ajang perang intelijen dan kontra-intelijen. Pihak-pihak yang berkepentingan saling beradu di sana. Kita, sebagai warga biasa, tidak perlu terjebak menjadi kompor yang memanaskan situasi. Menjaga netralitas dan kewarasan adalah pilihan paling bijak saat ini.



