Pertanyaan mendasar mengenai kelangsungan bisnis keluarga di Indonesia menjadi fokus utama dalam sebuah workshop intensif yang digelar baru-baru ini. Sejumlah pengusaha dari berbagai daerah, mulai dari Medan hingga Surabaya, berkumpul untuk mendalami mekanisme regenerasi yang efektif. Mereka diajak mensimulasikan dinamika tujuh kelompok usaha besar ternama, seperti Salim Family, Hartono Family, hingga Lee Family. Dalam simulasi ini, para peserta ditantang untuk menyusun sebuah dokumen krusial yang disebut sebagai "konstitusi keluarga" atau *family constitution*, sebuah pedoman yang seringkali menjadi penentu kelangsungan sebuah kerajaan bisnis.
p>Meskipun dalam simulasi waktu yang diberikan hanya terbatas setengah jam, proses nyata penyusunan konstitusi ini jauh lebih rumit dan menyita waktu. Hadi Cahyadi, seorang pakar sekaligus konsultan *family constitution* yang bergelar doktor dari Universitas Tarumanegara, menegaskan bahwa di dunia nyata, proses perundingan ini membutuhkan waktu paling singkat enam bulan. Bahkan, tidak jarang proses ini berujung pada kegagalan total ketika tidak ada titik temu di antara anggota keluarga, sehingga mengharuskan keterlibatan pihak ketiga sebagai mediator.Nilai utama dari seluruh proses tersebut sejatinya terletak pada perundingan itu sendiri, yang seringkali berlangsung sangat alot dan "menyakitkan". Diskusi ini memaksa isu-isu yang selama ini hanya menjadi bisikan di belakang layar untuk diangkat ke meja perundingan. Topik sensitif seperti definisi anggota keluarga—apakah menantu termasuk di dalamnya—hingga syarat bagi anggota keluarga untuk bekerja di perusahaan, menjadi pembahasan yang hangat. Secara umum, terdapat kesepakatan bahwa menantu bukanlah bagian dari struktur inti keluarga dalam konteks bisnis, dan anggota keluarga yang ingin terlibat harus memiliki pengalaman kerja di luar lingkungan keluarga terlebih dahulu, minimal dua tahun.
Perubahan paradigma menuju sistem meritokrasi juga mulai tampak dalam workshop ini. Tidak lagi menganggap anak laki-laki pertama secara otomatis berhak memimpin, para peserta kini menyadari pentingnya kompetensi. Posisi CEO dipertimbangkan secara matang, berdasarkan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman, bukan sekadar urutan lahir. Hal ini selaras dengan nasihat Hadi Cahyadi mengenai urgensi melakukan transisi kekuasaan sebelum pemimpin pendiri mengalami penurunan kapasitas kognitif. Keputusan yang diambil ketika pemimpin sudah tidak berpikir jernih seringkali dianggap tidak adil dan berpotensi memicu konflik.
p>Diantara para peserta yang hadir, terdapat beragam profil bisnis, mulai dari pemilik jaringan rumah sakit, pabrik plastik, hingga pengusaha cat yang omzetnya meroket tiga kali lipat. Salah satu kisah menarik datang dari pengusaha cat yang mengajak putranya, Jayson. Remaja berusia 14 tahun yang memilih home schooling sejak lulus SD ini telah terlibat aktif dalam operasional dan keuangan perusahaan ayahnya, menunjukkan dedikasi sedini mungkin untuk meneruskan usaha keluarga. p>Sementara itu, Bambang Sutantio, sosok di balik kesuksesan Grup Cimory, memberikan perspektif praktis melalui pengalaman pribadinya. Ia membagi strategi regenerasi yang ditempuhnya dengan ketat. Ketiga anaknya diwajibkan terlebih dahulu bekerja di perusahaan orang lain dengan tingkat stres tinggi untuk membentuk karakter, sebelum akhirnya masuk ke bisnis keluarga dan menangani pengembangan usaha. Setelah melalui proses panjang tersebut, Bambang membagi perusahaan menjadi tiga kelompok usaha terpisah untuk masing-masing anak, dengan skema kepemilikan saham silang agar terjaga sinergi tanpa saling membunuh. Langkah berani ini ia ambil saat usianya menginjak 60 tahun, jauh sebelum isu kesehatan atau pikun mengintai, membuktikan bahwa melepaskan kekuasaan adalah bagian terpenting dari kebijaksanaan seorang pemimpin.


