Peta kekuatan di tubuh FIFA mendadak berubah. Sebuah keputusan yang selama ini dianggap mustahil kini benar-benar terjadi: CONCACAF, konfederasi sepakbola yang menaungi Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, memilih merapat ke UEFA untuk menolak rencana bisnis besar yang tengah digodok Gianni Infantino.

Bagi Infantino, ini bukan sekadar penolakan biasa. Ini pukulan ganda. Dua kekuatan besar dalam sepakbola dunia kini berdiri di sisi yang sama, menentang arah kebijakan yang selama ini ia dorong. Sikap CONCACAF disampaikan secara resmi lewat sesi luar biasa yang digelar Kamis lalu. Hasilnya bulat: seluruh 41 negara anggota kompak menolak.

Isi Penolakan: 'FIFA Forward Enterprise' Dianggap Bermasalah

Proposal yang ditolak itu bernama 'FIFA Forward Enterprise'. Dalam pernyataan resminya, CONCACAF menegaskan sikap dasar mereka: masa depan sepakbola, berikut aset-aset paling berharganya, semestinya tetap berada dalam genggaman keluarga besar sepakbola itu sendiri—bukan pihak luar.

Penolakan itu tidak berhenti di situ. CONCACAF membeberkan sederet kejanggalan yang mereka lihat dalam proses ini. Mulai dari absennya prosedur hukum yang jelas, tenggat waktu yang terkesan dipaksakan, hingga tidak adanya ruang bagi badan pengelola FIFA untuk meninjau atau menyetujui rencana tersebut.

Ada satu pertanyaan besar yang juga mereka lontarkan: untuk apa sebenarnya modal swasta ini dibutuhkan? Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Piala Dunia edisi terakhir justru tercatat sebagai yang paling menguntungkan sepanjang sejarah turnamen itu digelar.

Skema Infantino: Perusahaan Baru dan Saham untuk Investor

Rencana yang diusung Infantino sebenarnya cukup ambisius. Ia ingin membentuk perusahaan afiliasi baru yang bakal mengelola bisnis besar seperti Piala Dunia, Piala Dunia Antarklub, dan berbagai kompetisi lainnya. Target awal penggalangan modalnya mencapai 4,2 miliar dolar AS, dengan proyeksi nilai pasar perusahaan tersebut bisa menyentuh angka fantastis: 20 miliar dolar AS.

Untuk mewujudkannya, FIFA berencana melepas 20 hingga 30 persen saham perusahaan ini kepada investor swasta. Namun porsi itu hanya sebatas kepemilikan minoritas—investor tidak diberi hak untuk mengendalikan arah perusahaan, setidaknya begitu klaim dalam rancangan yang dipaparkan.

Bantahan FIFA: Tidak Ada Niat Menjual Piala Dunia

Menghadapi gelombang kritik, FIFA buru-buru meluruskan bahwa mereka tidak pernah berniat menjual Piala Dunia. Menurut mereka, seluruh keuntungan bersih dari perusahaan baru ini nantinya akan diputar kembali untuk kepentingan pengembangan sepakbola di seluruh dunia.

FIFA juga menjanjikan kenaikan signifikan dalam pendanaan untuk 211 asosiasi anggotanya. Angka yang disebut cukup besar: dari 8 juta dolar AS pada siklus 2023-2026, naik menjadi 20 juta dolar AS pada siklus 2027-2030.

Yang Diminta CONCACAF: Keterbukaan dan Kejelasan Tata Kelola

Meski mendengar penjelasan FIFA, CONCACAF tidak serta-merta melunak. Mereka tetap menuntut transparansi yang lebih besar dan tata kelola yang lebih baik dalam setiap pengambilan keputusan.

Salah satu yang paling disorot adalah soal cadangan dana FIFA yang jumlahnya disebut sangat besar. CONCACAF ingin tahu persis bagaimana dana tersebut akan digunakan. Di penghujung pernyataan, mereka mengingatkan satu hal penting: Infantino wajib mengikuti jalur tata kelola resmi sesuai statuta organisasi, bukan mengambil jalan pintas.

UEFA Sudah Lebih Dulu Bersuara: Ancam Boikot

Sikap tegas CONCACAF ini sebenarnya menyusul langkah UEFA yang beberapa jam sebelumnya sudah menyatakan kesiapan untuk memboikot seluruh kompetisi FIFA. Ancaman itu muncul sebagai respons langsung atas rencana penjualan saham Piala Dunia yang tetap dipertahankan pihak FIFA.

Posisi Infantino Kian Terjepit

Bergabungnya CONCACAF dengan UEFA membuat posisi Infantino semakin sulit. Selama ini ia cukup mengandalkan dukungan dari konfederasi-konfederasi di benua Amerika untuk mengimbangi tekanan dari Eropa. Namun kini, salah satu sekutu pentingnya justru berbalik arah di tengah pertarungan yang disebut-sebut akan menentukan arah pengelolaan sepakbola dunia ke depan.

Pada akhirnya, perdebatan ini bukan sekadar soal skema bisnis semata. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar di baliknya: siapa sebenarnya yang berhak mengendalikan aset paling berharga dalam sepakbola, bagaimana seharusnya tata kelola dijalankan, dan seberapa jauh transparansi benar-benar dijunjung dalam setiap keputusan besar yang diambil.