Dalam perayaan ulang tahun ke-40 Klinik Ferina belum lama ini, terjadi sebuah pertemuan yang sangat mengharukan. Hadir dalam acara tersebut sekelompok generasi muda yang akrab disapa dengan sebutan "anak-anak mahal". Istilah ini bukanlah sebuah guyonan semata, melainkan sebuah definisi penuh kasih sayang bagi mereka yang lahir ke dunia melalui proses medis yang kompleks: bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF). Ferina sendiri adalah nama klinik kesuburan milik Dr. Aucky Hinting, yang telah menjadi harapan bagi ribuan pasangan suami istri di Indonesia.
Jejak Dr. Aucky dan Angka 20.200
Rekam jejak Dr. Aucky Hinting dalam dunia kedokteran reproduksi Indonesia tak bisa dianggap remeh. Selama 40 tahun mengabdi, pria alumni SMA St Louis dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini telah berhasil membantu kelahiran lebih dari 20.200 bayi. Keahliannya tidak didapat secara instan; ia mendalami ilmu bayi tabung langsung di Belgia. Di sanalah Dr. Aucky mengawali praktiknya dengan penuh tantangan, di mana tiga percobaan pertamanya berujung pada kegagalan sebelum akhirnya berhasil pada percobaan keempat. Kini, dedikasinya tersebut turun-temurun, dengan anak perempuannya yang menjadi dokter kandungan di Amerika dan anak lelakinya yang menjadi ahli laboratorium IVF di Ferina.
Validasi Figur Publik: Efisiensi dan Transparansi
Salah satu sorotan utama dalam acara tersebut adalah kesaksian dari publik figur ternama, Inul Daratista dan Dr. Lula Kamal. Keduanya sama-sama berhasil mendapatkan buah hati melalui Ferina. Lula mengungkapkan bahwa langkahnya mengikuti program ini terinspirasi dari Inul. Sementara itu, Inul menceritakan perjalanan panjangnya yang sempat gagal saat mencoba treatment di Singapura. Keputusannya mencoba di Surabaya berawal dari kebetulan menemukan informasi tertulis yang diletakkan suaminya di meja.
Bagi Inul, kejutan terbesar bukan hanya pada keberhasilannya, tetapi pada aspek biaya. Ia mengungkapkan keterkejutannya karena biaya yang dikeluarkan kala itu—sekitar Rp 40 juta—sangatlah transparan tanpa biaya tambahan tersembunyi. Jumlah ini jauh lebih hemat dibandingkan standar internasional. Tak heran, informasi ini menyebar hingga ke teman-temannya di Amerika yang akhirnya memilih untuk menjalani prosedur bayi tabung di Surabaya karena pertimbangan efisiensi yang sangat masuk akal tersebut.
Kisah Dr. Elly dan Pasangan Bali: Tekad Tanpa Batas
Di antara sekian banyak pasien, ada kisah Dr. Elly Darmadji yang bisa disebut sebagai pasien paling "beruntung" dan gigih. Melalui tiga kali prosedur bayi tabung, ia selalu dikaruniai kembar dua. Enam anaknya kini tumbuh sehat; tiga di antaranya menjadi wanita dokter, sementara tiga lainnya adalah lulusan universitas ternama di Australia, Jepang, dan Jakarta.
Tekad yang sama kuatnya juga ditunjukkan oleh pasangan asal Bali, Made, seorang seniman. Setelah delapan tahun menikah dan gagal di Bali, pasangan ini nekat pindah ke Surabaya demi menjalani program. Mereka menyembunyikan kehamilan tersebut dari keluarga besar di Bali demi menghindari stres, bahkan sang istri rela mengganjal bokong dengan bantal saat tidur. Usaha keras ini membuahkan hasil berupa tiga putri kembar cantik yang kini sudah menempuh pendidikan tinggi.
Di Atas Keterbatasan: Iman dan Kelahiran Tanpa Penglihatan
Tidak semua kisah berjalan mulus sesuai harapan fisik, namun semuanya bermuara pada keajaiban kehidupan. Saya bertemu dengan sepasang kembar laki-laki dan perempuan yang lahir dalam keadaan buta. Ayah mereka menceritakan bahwa karena komplikasi kandungan yang mengancam nyawa istri, kelahiran harus dilakukan prematur saat usia kandungan enam bulan, di mana kornea mata janin belum terbentuk sempurna.
Meskipun dihadapkan pada pilihan untuk menggugurkan kandungan demi menghindari penderitaan, keyakinan agama Katolik yang kuat membuat pasangan ini memilih untuk mempertahankan kehidupan anak-anak mereka. Mereka menerima kenyataan pahit tersebut dengan penuh iman. Kini, bukti kekuatan hidup tersebut terlihat jelas; kedua anak itu tumbuh menjadi mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya, penuh percaya diri, dan tidak membiarkan keterbatasan fisik menghalangi semangat mereka.
Estafeta Generasi dan Makna Sebenarnya
Peringatan ulang tahun ke-40 Ferina menjadi bukti bahwa teknologi medis bukan sekadar alat, melainkan jembatan untuk mewujudkan mimpi keluarga. Istilah "anak mahal" mungkin terdengar materialistis, namun maknanya jauh lebih dalam. Investasi finansial yang besar dalam proses bayi tabung akan terasa sangat "murah" jika kelak si anak mampu hidup sukses, memberikan kontribusi bagi masyarakat, dan membahagiakan orang tuanya. Seperti kata pepatah, apa yang mahal hari ini bisa menjadi investasi paling berharga untuk masa depan.




