Rencana FIFA menata ulang pengelolaan hak komersial dan investasi di dunia sepakbola, termasuk yang menyangkut ajang sebesar Piala Dunia, ternyata tidak diterima begitu saja. Sejumlah pihak justru menyoroti bagaimana rencana besar ini disusun, dan meminta agar prosesnya dibuka lebih lebar kepada publik.
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menjadi salah satu yang paling vokal menyuarakan keberatannya. Mereka mempertanyakan cara FIFA mengajukan rencana tersebut, sekaligus meragukan apakah mekanisme yang ditempuh sudah mencerminkan tata kelola organisasi yang sehat.
FIFA Siapkan Entitas Baru Bernama “FIFA Forward Enterprise”
Yang menjadi pusat perhatian adalah rencana FIFA membentuk badan usaha baru bernama FIFA Forward Enterprise. Lewat entitas ini, FIFA disebut ingin menyatukan berbagai aktivitas komersial sekaligus operasional organisasi dalam satu wadah besar. Karena cakupannya yang luas, langkah ini dipandang bisa membawa dampak signifikan terhadap tata kelola sepakbola global ke depan.
Namun AFC mengaku baru mengetahui rencana ini setelah semuanya sudah matang di tangan FIFA. Mereka tidak dilibatkan sejak tahap awal perencanaan, padahal proyek semacam ini berpotensi mengubah peta finansial dan komersial sepakbola dalam jangka panjang.
AFC: Kami Kecewa, Diumumkan Duluan Sebelum Diajak Bicara
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada hari Rabu, AFC menyampaikan kekecewaannya karena rencana tersebut lebih dulu dipublikasikan ke masyarakat luas, sebelum konfederasi-konfederasi di berbagai benua mendapat kesempatan mengkajinya lewat forum resmi.
Menurut AFC, setiap kebijakan berskala global semestinya dibangun di atas tiga fondasi utama: tata kelola yang baik, keterbukaan informasi, dan konsultasi yang benar-benar substantif. Bila konfederasi dilibatkan sejak awal, keputusan yang lahir diyakini akan lebih mencerminkan kepentingan bersama, bukan hanya kepentingan segelintir pihak.
Semua Pemangku Kepentingan Harus Dilibatkan Sejak Awal
AFC menegaskan, keputusan yang berpotensi mengubah arah komersial dan finansial sepakbola dunia tidak bisa disusun secara sepihak. Konfederasi benua, federasi nasional, hingga berbagai pemangku kepentingan lain, menurut mereka, harus dilibatkan sejak proses awal—bukan hanya diberi tahu setelah rancangan selesai dibuat.
Selain pelibatan sejak dini, AFC juga menuntut agar semua pihak diberi informasi yang cukup serta waktu yang memadai untuk menelaah usulan tersebut secara mendalam, baik dari sisi hukum, komersial, maupun strategi jangka panjang. Bagi AFC, proses evaluasi semacam ini penting untuk memastikan keputusan yang diambil benar-benar mewakili kepentingan kolektif, sekaligus menjaga kepercayaan terhadap FIFA sebagai induk organisasi sepakbola dunia.
Sebagai satu dari enam konfederasi benua di bawah naungan FIFA, AFC menegaskan kembali komitmennya mendukung perkembangan sepakbola dunia yang berkelanjutan. Sikap yang mereka sampaikan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa isu transparansi dan konsultasi bukan perkara kecil, terutama ketika menyangkut rencana besar yang menyentuh sisi komersial dan investasi sepakbola global.



