Tajam pembaca memprediksi lokasi penginapan saya di Vladivostok. Bahkan perkiraan mengenai tarif kamar per malamnya ternyata benar adanya.
Properti tersebut adalah Grand Hotel Vladivostok yang, menurut manajer Anna, baru saja diresmikan dua tahun silam. Keunikan hotel ini terletak pada desainnya yang memanfaatkan kelokan pantai; seluruh kamar menyuguhkan pemandangan langsung ke laut. Lokasinya sangat strategis, berada di pusat kota tepat di seberang monumen Perang Dunia II.
Mencari hiburan di senja hari, saya menuju pusat kota dengan harapan bisa menonton pertunjukan apa saja—baik itu balet, musik klasik, maupun kabaret. Gedung opera menjadi yang pertama saya temui.
Di loket, saya tidak menanyakan harga. Saya hanya menyerahkan selembar uang kertas Rubel yang bernominal 1.000. Petugas menerima satu lembar dan mengembalikan sisanya. Saya tidak menghitung berapa kembaliannya, yang jelas tiketnya sangat terjangkau.
Panggung awal hanya dihuni sebuah piano besar. Pertunjukan dibuka oleh duet wanita: satu sebagai penyanyi aria dan satu lagi pianis. Format ini berlanjut selama 40 menit dengan delapan lagu aria yang dibawakan bergantian oleh beberapa penyanyi. Ruangan berkapasitas 120 orang itu hampir penuh, dan tepuk tangan selalu memekar setiap lagu usai.
Babak kedua menawarkan nuansa berbeda. Piano digeser ke belakang, digantikan oleh lima pemain musik. Inilah pertunjukan ansambel balalaika. Tiga musisi di depan memainkan alat musik petik berbodi segitiga—ukurannya bervariasi dari sekecil biola hingga mandolin—dan seorang akordeonis. Di belakang, seorang pemain berdiri memegang bas setinggi badan yang juga berbodi segitiga. Mereka membawakan instrumental musik rakyat Rusia, diikuti lima lagu yang dinyanyikan seorang wanita berbusana adat dengan penuh penghayatan tanpa gaya berlebihan.
Ini merupakan pengalaman pertama saya menyaksikan ansambel balalaika. Kunjungan sebelumnya ke Rusia bersama rombongan Presiden Soeharto lebih banyak dihabiskan untuk menikmati balet klasik di St. Petersburg.
Keesokan paginya, saya meluangkan waktu untuk melihat isi toko-toko setempat. Benar dugaan, mayoritas barang yang dijual adalah produk Tiongkok. Namun, sebuah kejutan menyapa saya di rak kosmetik: sebuah kata yang sangat familiar bagi mata orang Indonesia, WARDAH.
Saya mendekat dan memastikan: itu benar-benar produk asli Indonesia. Bahasa pada kemasan masih menggunakan Bahasa Indonesia, hanya dilapisi stiker informasi berbahasa Rusia. Sebuah kebanggaan langsung muncul. Saya mengambil foto produk tersebut dan berpose di depan rak itu untuk dikirim ke Nurhayati Subakat, pemilik Wardah, serta putranya yang kini memegang kendali perusahaan tersebut.
Saya memilih berjalan kaki ke mana-mana, kecuali saat hendak menyeberangi jembatan ikonik kota itu. Saat itu saya menggunakan taksi sekaligus menuju mal terbesar di Vladivostok. Di sana, ada sebuah burger lokal yang dipromosikan sebagai menu "wajib dicoba".
Saya sudah lupa nama pasti burger itu. Fokus menulis soal Jampidsus Febrie Adriansyah sepertinya menggeser ingatan saya. Namun, saya masih ingat jelas rasanya: luar biasa. Daging, roti, dan kejunya berpadu menjadi burger terbaik yang pernah saya santap.
>Pada umumnya, kualitas roti di Rusia setara dengan roti di Prancis. Setiap kali menggigit roti di Vladivostok, selera saya teringat pada bagel jenis "everything" di New York. Saya pernah mencoba bagel di Connecticut, Buffalo, hingga Niagara, namun rasanya tidak ada yang menyamai yang di New York. Fenomena ini mirip dengan keunikan tempe di Bogor atau Malang yang rasanya sulit ditiru di tempat lain. Konon, kualitas air di daerah-daerah tersebut memiliki peran kunci dalam menciptakan cita rasa tersebut.


