Target "Indonesia Emas 2045" tampaknya bakal terwujud jauh lebih cepat dari jadwal. Bukan karena kemajuan ekonomi semata, melainkan karena obrolan santai di kalangan publik yang ramai membahas temuan 74 kilogram emas di tahun 2026 ini.

Itulah salah satu meme yang beredar baru-baru ini. Di balik kelucuannya, lelucon tersebut menyimpan kepahitan yang dalam. Puncak kemarahan masyarakat terhadap korupsi kini berubah menjadi sindiran pedas: bagaimana mungkin kita bisa bermimpi mencapai Indonesia Emas jika para penegak hukumnya sendiri justru tersandung kasus serupa?

Kemarahan ini semakin beralasan setelah sebuah buku berjudul Memberantas Korupsi Sambil Korupsi siap terbit. Karya Ronald Loblobly, koordinator Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (Kosmak), ini mengurai kisah di balik layar pemberantasan korupsi yang dipimpin oleh seorang mantan pejabat tinggi Kejaksaan: Febrie Adriansyah.

Loblobly dalam bukunya mengungkap sebuah metode yang diduga dipakai Febrie, yang ia sebut sebagai teori "sembelih anjing di depan monyet". Istilah ini mungkin asing bagi telinga Barat, tapi sangat nyambung dengan budaya politik kita—mirip pepatah Tiongkok kuno tentang membunuh ayam untuk menakut-nakuti monyet.

Logikanya sederhana namun kejam. Anjing adalah hewan peliharaan yang setia. Jika anjing saja berani dibunuh, apalagi para monyet yang duduk di kursi empuk pengusaha besar. Pesan ini disampaikan Febrie melalui penangkapan seorang atau dua pengusaha besar, yang disiarkan secara masif oleh media untuk membangun citranya sebagai pahlawan anti-korupsi.

Namun, dramatisasi ini meninggalkan rasa ngeri. Kesannya, pemberantasan korupsi hanyalah dekorasi, sementara intinya adalah jual-beli kekuasaan. Buku ini diterbitkan oleh Kompas Gramedia dan siap memberi perspektif baru bagi publik.

Lalu, bagaimana nasib Febrie saat ini? Jumat lalu, ia akhirnya memenuhi panggilan Kejaksaan Agung setelah mangkir di pemanggilan pertama dengan alasan sakit—alasan yang sering ia dengar dari para tersangka yang pernah ia tangkap.

Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan, Rudi Margono, tidak main-main. Panggilan kedua datang dengan ancaman tegas: jika tidak hadir, penangk paksa akan dilakukan. Tak mau mengambil risiko, usai salat Jumat, Febrie datang ke Kejaksaan Agung didampingi kuasa hukum barunya, Febri Diansyah.

Posisi Febri Diansyah di sini menarik perhatian. Mantan juru bicara KPK yang sangat populer itu kini berbalik arah menjadi pengacara. Ia menggantikan Hotman Paris yang mundur karena masalah kesehatan. Bagi Febri, profesi pengacara adalah membela siapa pun yang menjadi klien, tak peduli status hukumnya.

Meski demikian, masih ada segelintir pengacara yang memegang teguh prinsip. Boyamin Saiman, ketua Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), adalah salah satunya. Ia menolak keras membela tersangka kasus korupsi. Boyamin punya kenalan dekat dengan Febrie. Ia mengaku memutuskan komunikasi sejak 2023 karena ada upaya penyuapan dari Febrie kepadanya.

Proses pemeriksaan Febrie berjalan lama, diperkirakan hingga mendekati salat Isya. Dari status saksi, surat penetapan tersangka disiapkan. Malam itu juga, Febrie resmi ditahan selama 20 hari, dengan kemungkinan perpanjangan.

Yang jadi sorotan adalah lokasi penahanannya. Febrie tidak digiring ke rutan Kejaksaan Agung, melainkan ke Rumah Tahanan KPK di Gedung Merah Putih. Ia juga tidak mengenakan rompi tahanan oranye khas. Warganet langsung meledak kecaman, mencium aroma perlakuan istimewa. Alasan "terburu-buru" dari Kejagung dianggap tidak masuk akal.

Boyamin Saiman memberi pandangan lain soal rompi oranye. Menurutnya, itu hanya alat visual agar tahanan mudah dikenali jika kabur. Ia lalu melontarkan seloroh humoris mengenai lokasi penahanan: Febrie mungkin dititipkan di KPK agar tidak "dikeroyok" oleh tahanan kasus korupsi lain di rutan Kejaksaan atau Polri.

Namun, di balik humor itu, ada analisis logis. Di rutan Kejaksaan Agung, ada saksi kunci perkara ini, Don Ritto. Memisahkan Febrie dari Don Ritto adalah langkah strategis untuk mencegah komunikasi yang bisa merusak bukti.

Saat digiring masuk tahanan, Febrie tidak melawan sama sekali. Padahal, sebelumnya ia sempat berbicara keras tentang perlawanan. Satu-satunya kalimat yang keluar adalah klaim dirinya dikriminalisasi.

Sekarang, "roh" anjing yang dulu disembelih di depan monyet itu sepertinya sedang gentayangan. Para "monyet" yang ketakutan itu mungkin kini saling tersenyum dan tertawa melihat sang penjaga kini terjebak dalam jeruji besi.