Ada sebuah filosofi hidup sederhana yang tertanam kuat dalam benak saya sejak masa kanak, warisan langsung dari sosok ayah. Beliau pernah menasihati bahwa dalam urusan berpakaian, kita tidak akan pernah mencapai titik absolut. Seindah apapun busana yang kita kenakan, akan selalu ada orang lain yang tampil lebih baik. Sebaliknya, meski kita mengenakan pakaian paling buruk sekalipun, pasti masih ada orang lain yang berpakaian jauh lebih buruk dari kita.
Pesan tersebut membekas dan membentuk paradigma saya bahwa berpakaian itu cukuplah pantas, tidak perlu berlebihan atau ikut dalam kompetisi mode yang tak berujung. Meski begitu, pilihan gaya saya ini kerap menuai kritik dari berbagai pihak yang menilai penampilan saya kurang layak untuk acara formal. Saya mengakui hal tersebut dan sempat berusaha berubah, namun sifat dasar itu seringkali kembali lagi. Salah satu momentum perubahan itu saya coba hadirkan saat menerima undangan dari Ari Sufiati di Malang akhir pekan lalu.
Kontras Penampilan di Malang
Karena ketidaksempurnaan waktu memeriksa detail undangan, saya berangkat dengan mengenakan hoody hitam biasa dan membawa baju koko putih sebagai cadangan. Di tengah perjalanan, setelah mengecek pesan, saya mengetahui bahwa itu adalah acara ulang tahun. Saya merasa lega karena menganggap hoody saya cukup pantas untuk perayaan hari kelahiran. Namun, rasa lega itu sirna seketika saat tiba di Omah Kendedes, Shanaya Resort. Saya melihat para tamu lain berdandan penuh dengan gaun dan kebaya yang elegan. Jelas ini adalah pesta bergaya formal.
Mobil sudah terlanjur menuju tempat parkir dan baju cadangan di mobil pun terasa tidak pas untuk suasana pesta, kecuali jika saya ditunjuk sebagai pembaca doa. Apalagi ketika melihat tampilan Ari Sufiati yang menyambut kedatangan saya, sebuah kontras yang tajam terasa. Saya seperti pasangan yang tak serasi, namun saya memilih untuk menerima keadaan apa adanya, mengingat kembali nasihat ayah saya.
Sisi Lain Ari Sufiati
Saya biasa mengenal Ari sebagai sosok yang sangat kasual, bahkan cenderung tomboy, dengan pakaian yang mendukung mobilitas tinggi dan efisiensi kerja. Saya pernah lima hari menjalani rutinitas dengannya di California, di mana ia selalu tampil praktis. Dialah sosok pekerja keras dan cerdas yang bekerja di salah satu tim penting Apple Inc., tepat di jantung Silicon Valley. Namun, di usianya yang ke-50 ini, ia memilih tampil berbeda, memenuhi cita-cita lamanya untuk merayakan ulang tahun dengan tema besar.
Perayaan ini memiliki makna mendalam bertema homecoming. Bagi seorang ekspatriat yang telah lama bermukim di Amerika Serikat, pulang ke tanah air untuk merayakannya bersama orang-orang terdekat adalah sebuah impian yang menjadi kenyataan. Daftar undangannya mencerminkan perjalanan hidupnya, mulai dari teman masa sekolah di SMAN 16 Surabaya, rekan kuliah di Unair, hingga dosen, para pertukaran pelajar, dan tentu saja keluarga intinya. Hal ini menunjukkan betapa ia menjaga akar kultur dan relasi meski sukses di kancah internasional.
Kebaikan dan Teknologi
Kebaikan hati Ari tidak berhenti pada urusan pesta. Ia dikenal sering membantu para aktivis dan calon mahasiswa dari Indonesia yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Saya pribadi pernah merasakan keramahannya tinggal di rumahnya di San Francisco Bay Area. Kini, kebaikan itu berlanjut kepada cucu saya, Ayrton, yang akan melanjutkan studi di Kansas University. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Kansas, Ayrton akan singgah di rumah Ari di California.
Meski Ari berada di Indonesia saat ini, ia dengan mudah memberikan akses kepada cucu saya dengan mengirimkan password pintu rumahnya kepada Azrul, ayah Ayrton. Ini adalah gambaran nyata bagaimana teknologi dan kepercayaan menyatu dalam gaya hidup di sana, di mana kunci pintu dapat diakses dan dikontrol dari jarak jauh.
Jaringan Diaspora dan Indonesia Lighthouse
Acara ini juga menjadi pertemuan silang jaringan diaspora yang kuat. Ada Dian Widhi yang sengaja datang dari Houston, Irma Miller dari Lexington yang datang bersama kedua anak berwajah bule, serta Victor Augusteo asal Pontianak yang menjabat CTO di sebuah startup dengan karyawan berbasis di Indonesia. Mereka tidak hanya datang sebagai sahabat, tetapi juga rekan dalam aktivitas sosial melalui yayasan Indonesia Lighthouse yang mereka dirikan.
Yayasan ini memiliki rekam jejak positif, seperti tahun lalu menampilkan angklung di Amerika dan membina bakat mahasiswa Indonesia dalam berbagai program. Menatap sekeliling ruangan pesta yang meriah itu, saya mencari pelipur lara atas penampilan sederhana saya. Ternyata, masih ada tiga orang lain yang berbusana jauh lebih sederhana dari saya. Akhirnya, saya tersenyum kembali. Ternyata, nasihat ayah saya itu tak lekang oleh waktu dan tempat, selalu relevan dalam situasi apapun.
Sumber: Rujukan artikel asli




