Perkembangan teknologi keuangan digital telah mengubah cara masyarakat bertransaksi, membuat dompet fisik kini tak lagi bergantung pada uang tunai. Di Indonesia, QRIS telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, namun perubahan ini ternyata hanyalah permukaan dari revolusi yang lebih besar. Tiongkok, yang telah menerapkan uang elektronik secara penuh sejak 2020, kini bergerak lebih jauh dengan menciptakan sistem e-wallet berskala negara. Ambisi terbaru ini tertuang dalam sebuah proyek bernama mBridge, yang ditujukan untuk mengubah lanskap ekonomi global secara fundamental.

Tantangan Bagi Dominasi Dolar AS

Langkah agresif yang diambil Tiongkok ini bukan sekadar untuk menyaingi popularitas QRIS di negara lain, melainkan sebagai respons terhadap munculnya mata uang kripto seperti bitcoin dan rencana mata uang digital Facebook dulu, Libra. Melihat potensi dominasi perusahaan teknologi raksasa seperti Alibaba dan Tencent, Negeri Tirai Bambu melihat peluang emas untuk menggoyang hegemoni dolar Amerika Serikat. Selama ini, dominasi dolar AS terjaga karena hampir seluruh transaksi perdagangan internasional dan cadangan devisa negara-negara di dunia masih menggunakan mata uang tersebut.

Negara yang sehat wajib memiliki cadangan devisa yang cukup, umumnya dalam bentuk dolar, untuk membiayai impor barang-barang vital mulai dari pangan, mesin industri, hingga pesawat terbang. Setiap kali terjadi impor, transaksi bank harus melalui serangkaian prosedur yang rumit melibatkan bank sentral dan perantara internasional, yang pada akhirnya mempertahankan posisi dolar sebagai mata uang utama dunia.

Kelemahan Sistem SWIFT

Seluruh transaksi perbankan antarnegara saat ini bergantung pada sebuah sistem bernama SWIFT. Meski telah digunakan sejak 1977 dan menggantikan metode kuno seperti telex, SWIFT dinilai sudah tidak relevan lagi dengan kecepatan dunia digital saat ini. Proses transaksi melalui sistem ini bisa memakan waktu antara tiga hingga lima hari, melibatkan banyak biaya perantara di setiap perpindahan rekening, dan terkadang memerlukan jasa bank kelas dunia sebagai penghubung.

Lebih jauh lagi, SWIFT telah berubah menjadi alat politik. Hal ini terlihat ketika Rusia dan Iran dilarang menggunakan sistem ini oleh blok Barat, yang membuat kedua negara tersebut kesulitan melakukan transaksi internasional. Potensi sanksi serupa yang mungkin dijatuhkan kepada Tiongkok di masa depan mendorong negara tersebut untuk menciptakan alternatif mandiri yang tidak bisa dipengaruhi kepentingan politik negara lain.

Inovasi mBridge dan Transaksi Kilat

Melalui proyek mBridge, kependekan dari Multiple Bridge, Tiongkok menawarkan solusi radikal untuk mengatasi kelemahan SWIFT. Konsepnya sederhana namun revolusioner, yaitu menghubungkan e-wallet negara satu ke negara lain secara langsung tanpa perantara bank yang berlapis-lapis. Dengan sistem ini, transaksi internasional yang biasanya memakan waktu berhari-hari dapat dilakukan secara real time, bahkan diklaim hanya butuh waktu sekitar tiga detik.

Selain kecepatan, efisiensi biaya menjadi daya tarik utama. Biaya transaksi diprediksi dapat turun drastis hingga hanya tersisa 30 persen dari biaya sebelumnya. Sistem ini mengusung gagasan bahwa setiap negara memiliki dompet elektronik yang saling terhubung, memungkinkan aliran dana terjadi secepat mengirim pesan singkat. Namun, implementasi ini juga menyiratkan bahwa negara-negara peserta harus mulai menyimpan cadangan devisa dalam bentuk Yuan China, bukan lagi semata-mata dolar AS.

Pergeseran Cadangan Devisa Negara

Uji coba mBridge sudah mulai dilakukan antara Tiongkok dengan beberapa negara ASEAN, seperti Thailand, dan negara-negara Timur Tengah termasuk Uni Emirat Arab. Kolaborasi ini menargetkan perdagangan komoditas vital, khususnya minyak, agar bisa dilakukan dengan menggunakan Yuan. Langkah yang diambil Thailand dan UEA ini menunjukkan bahwa banyak negara mulai menyadari pentingnya menjemput masa depan sistem keuangan global yang baru.

Jika proyek ini sukses diimplementasikan secara luas, struktur ekonomi global akan mengalami pergeseran besar. Ketergantungan pada dolar AS dan sistem perbankan konvensional Barat akan berkurang, memberi ruang bagi mata uang lokal untuk berperan lebih besar dalam perdagangan internasional. Tiongkok tidak hanya bermain di ranah penjualan barang murah, tetapi juga sedang membangun infrastruktur keuangan yang lebih murah dan cepat untuk dunia.

Sumber: Rujukan artikel asli