Kerja sama ekonomi strategis antara Indonesia dan Tiongkok yang digadang-gadang sebagai solusi integrasi rantai pasok kini berada di ambang kegagalan. Inisiatif yang diberi nama Two Countries Twin Parks ini seolah-olah menjadi sepasang kekasih yang sudah berjanji sehidup semati, namun justru tengah berjuang keras untuk bisa bertahan hidup. Semangat awal untuk membangun ekosistem industri yang saling melengkapi tampaknya semakin luntur, tergerus oleh hiruk pikuk dan konsumsi energi politik yang belakangan ini mendominasi ruang diskursus bangsa.
Konsep Kawasan Industri Ganda
Sejatinya, ide yang diusung dalam proyek ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi dan berbeda dari kawasan industri pada umumnya. Indonesia tidak lagi sekadar berperan sebagai penyedia lahan atau tenaga kerja murah bagi investor asing. Konsep Two Countries Twin Parks merancang sebuah pernikahan industri antara dua negara, di mana kawasan industri di Batang, Jawa Tengah, dipasangkan secara khusus dengan kawasan industri di Provinsi Fujian, Tiongkok, yang berdekatan dengan ibu kota Fuzhou.
Mekanisme yang dibayangkan sangat ideal dan efisien. Jika bahan baku utama tersedia di Indonesia, maka proses awal pengolahan dilakukan di Batang untuk menghasilkan barang setengah jadi, yang kemudian dikirim ke pabrik pasangannya di Fujian untuk proses selanjutnya. Sistem ini bekerja dua arah, menciptakan ketergantungan dan simbiosis mutualisme yang kuat antar kedua lokasi, mengoptimalkan sumber daya yang ada di masing-masing negara.
Ketergantungan pada Iklim Politik
Namun, impian besar ini kini harus menghadapi kenyataan pahit. Sudah dua tahun lamanya progres pembicaraan mengenai proyek ini mengalami perlambatan drastis. Tidak ada lagi langkah signifikan yang terdengar, hanya saling menunggu antara pihak Indonesia dan Tiongkok. Situasi ini diperparah oleh iklim politik dalam negeri yang memanas menjelang tahun pemilu. Perhatian para pengambil kebijakan seolah beralih total ke perebutan pengaruh dan kekuasaan, meninggalkan agenda pembangunan ekonomi jangka panjang yang substansial.
Akibatnya, pembangunan iklim ekonomi yang kondusif menjadi terabaikan. Pengelola kawasan industri tidak bisa berdiam diri menunggu kepastian regulasi yang tak kunjung tiba. Investor yang telah menanamkan modal tentu membutuhkan kepastian arus kas dan waktu operasional. Terpaksa, pihak pengelola kawasan industri di Batang harus mengubah strategi. Mereka kini membuka diri bagi siapa pun yang ingin berinvestasi, tidak lagi terikat pada konsep pasangan industri semula. Idealisme pun harus mengalah pada pragmatisme agar proyek tetap bisa bernapas.
Hambatan Regulasi dan Solusi Fiskal
Tantangan terberat yang menghadang kelanjutan proyek ini bukanlah soal niat, melainkan teknis regulasi fiskal. Model Two Countries Twin Parks tidak akan pernah efektif jika masih dibebani oleh bea masuk dan pajak ekspor biasa. Fasilitas tax holiday maupun kemudahan perizinan saja tidak cukup untuk menarik minat investor dalam skema ini. Dibutuhkan satu langkah lebih jauh, yaitu pembebasan bea masuk di kedua sisi negara untuk menjaga keunggulan kompetitif rantai pasok tersebut.
Solusi untuk permasalahan ini sebenarnya sudah terbayang jelas dan sangat mungkin direalisasikan. Pemerintah dapat menetapkan kawasan industri yang ditunjuk sebagai kawasan berikat atau bonded zone. Indonesia sendiri sudah memiliki pengalaman cukup luas dalam mengelola sembilan kawasan berikat, mulai dari Medan, Karawang, hingga Morowali. Penerapan status serupa pada proyek Twin Parks akan menjadi kunci yang membuka gerbang terhambatnya investasi ini.
Uceng dan Deleg dalam Ekonomi Nasional
Kita belakangan lebih sering terdengar diskusi mengenai ekonomi kerakyatan skala kecil seperti Koperasi Desa Merah Putih atau program bantuan sosial ekonomi. Fokus kita seringkali tersita oleh upaya mengejar ribuan ikan kecil atau 'uceng' dalam jumlah banyak, namun lupa bahwa kita hampir kehilangan satu ikan besar atau 'deleg' yang bernilai strategis.
Metafora sederhana ini menggambarkan prioritas bangsa saat ini. Mengejar pertumbuhan ekonomi mikro tentu penting untuk menyentuh lapisan bawah, namun itu tidak boleh mengorbankan peluang investasi makro yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional dalam jangka panjang. Proyek seperti Two Countries Twin Parks adalah 'deleg' yang tidak boleh dilepaskan begitu saja, jika kita menginginkan struktur industri yang tangguh dan berdaya saing global.
Sumber: Rujukan artikel asli




