Dunia advokasi dan hukum di Tan Air kini berduka. Muhammad Sholeh, atau yang akrab disapa Cak Sholeh, telah menghembuskan nafas terakhirnya. Kabar duka ini menyusul penampilan terakhirnya dalam sebuah video yang beredar pekan ini, di mana ia tampak dengan pipi yang lebih bengkak dari biasanya. Dengan logat Jawa-Suroboyoan yang khas, ia menjelaskan bahwa kondisi fisiknya tersebut merupakan efek samping dari obat yang dikonsumsinya karena sedang sakit. Penyakit autoimun yang dideritanya akhirnya membawanya ke RS Siloam Surabaya, dan di sanalah ia menghadapi Sang Pencipta untuk selamanya.

Sang Pendekara Kaum Mustad'afin

Asli Madura dan lulusan Pesantren Tebuireng, Jombang, Cak Sholeh dikenal sebagai pengacara yang konsisten membela kaum mustad'afin atau wong cilik. Ia adalah figur yang sulit dikompromikan, apalagi dibeli. Integritasnya teruji dalam memperjuangkan kasus korupsi, khususnya yang melibatkan pejabat daerah dalam penggunaan anggaran jatah DPRD Jawa Timur. Di era akhir Orde Baru, ia sempat dituduh sebagai komunis karena pergerakannya yang kritis. Namun, dengan selera humor yang tinggi, ia menanggapi tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa pesantren Tebuireng ternyata hebat karena bisa melahirkan seorang komunis. Jawaban tersebut mencerminkan kecerdasan dan ketenangannya dalam menghadapi tekanan politik.

Ironi Perjuangan di Mahkamah Konstitusi

Salah satu warisan terbesar Cak Sholeh adalah rekam jejaknya sebagai pemohon di Mahkamah Konstitusi. Ia telah mengajukan gugatan sebanyak 24 kali, sebuah angka yang menunjukkan gigihnya semangatnya untuk memperbaiki tata kelila negara. Dua gugatannya paling fenomenal adalah terkait calon tunggal kepala daerah dan sistem pemilihan anggota legislatif berdasarkan suara terbanyak.

Namun, ada sebuah ironi yang menyayat hati dalam perjuangannya itu. Cak Sholeh menggugat sistem suara terbanyak karena mendengar isu bahwa pencalonannya dari partai politik akan dihambat, bahkan akan ditempatkan di nomor urut sepatu. Ia berharap dengan sistem suara terbanyak, ia tetap bisa lolos ke Senayan meski ditempatkan di nomor yang tidak strategis. Fakta berkata lain. Ia justru tidak dicalonkan oleh partai tersebut. Hasil perjuangannya kini dinikmati oleh banyak anggota dewan lainnya, salah satunya Indah Kurnia dari PDI Perjuangan di Surabaya. Indah berhasil terpilih untuk keempat kalinya berkat sistem ini, sementara sang pencetus gagasan harus melihat dari luar pagar kekuasaan.

Tarik-Ulur dengan Sistem Politik

Cak Sholeh adalah tipe aktivis lapangan yang keras dan sulit untuk dikendalikan oleh sistem politik yang cair. Usahanya menembus parlemen melalui Gerindra pun tidak membuahkan hasil. Ia kemudian mencoba jalur independen dalam pemilihan Wali Kota Surabaya. Meskipun ia mengklaim telah berhasil mengumpulkan dan menyerahkan 190.000 KTP pendukung ke KPU, verifikasi administratif menyatakan bahwa dukungan tersebut tidak memenuhi syarat minimal. Baginya, masuk ke sistem adalah cara untuk melakukan perbaikan dari dalam, namun jalan menuju pintu tersebut ternyata dipenuhi dinding yang tinggi dan tebal.

Analisis Hukum yang Kontroversial

Selain aktivitas lapangannya, Cak Sholeh dikenal rajin membuat konten video di YouTube untuk memberikan perspektif hukum atas berbagai peristiwa besar. Salah satu pandangannya yang memicu pro dan kontra adalah terkait kasus prostitusi online yang menyeret nama seperti Vanessa Angel dan Hana Hanifah. Di mata Cak Sholeh, transaksi tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka, di mana yang diperjualbelikan adalah tubuh, bukan pikiran atau jabatan. Ia berpendapat bahwa secara agama hal tersebut adalah dosa, namun kacamata hukum pidana tidak bisa semata-mata diterapkan.

Ia juga memberikan analisis tajam mengenai penerapan UU ITE. Menurutnya, pengiriman foto setengah telanjang secara personal antar individu, seperti halnya pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh, tidak bisa dikriminalkan karena sifatnya privat dan tidak dapat diakses publik. Ia menegaskan bahwa jika kemudian foto tersebut bocor dan viral, yang harus dipidana adalah pihak yang menyebarkan, bukan pemilik foto asli. Pandangan ini menunjukkan kedalaman pemikiran hukumnya yang kerap melihat celah dan esensi keadilan di balik teks peraturan yang kaku.

Kepergian Cak Sholeh meninggalkan duka yang mendalam bagi banyak kalangan. Sebagai penasihat di Pondok Pesantren spiritual Singa Putih, Tretes, sosoknya sangat dihormati. Ia meninggalkan kesederhanaan yang luar biasa, seorang pengacara ternama yang tidak memiliki satu pun cincin di jarinya. Rakyat kecil benar-benar telah kehilangannya, sosok pembela keadilan yang tulus tanpa imbalan.