Sebuah nama perusahaan sering kali mencerminkan visi pendirinya. Ketika pertama kali mendirikan usaha, pria asal Tulungagung ini memilih bentuk CV dengan nama yang cukup berani: Sadean Internasional. Bagi mereka yang fasih bahasa Jawa, kata 'Sadean' adalah bentuk halus dari 'dodolan', yang artinya tidak lain adalah berjualan.

Pria ini adalah putra daerah asli Tulungagung, tepatnya dari Desa Ariyojeding, Kecamatan Rejotangan. Di masa kecil, ia dikenal dengan nama panggilan sederhana: Dimyani, atau sering dipanggil Dim. Namun, nama yang kini melekat di kancah bisnis Negeri Jiran jauh lebih megah dan terdengar 'kerajaan': Raden Datuk Diraja Mohammad Iman Hascary Kusumo.

Perantauan Orang Tua dan Awal Mula

Jejak perjalanan hidup Dim tidak bisa dilepaskan dari cerita keluarganya. Saat usianya baru menginjak lima tahun, kedua orang tuanya memutuskan merantau ke Malaysia. Sebelum berangkat, sang ayah mengais rezeki dengan berjualan kacang keliling desa menggunakan sepeda, sambil menyasar penonton pagelaran wayang kulit. Sementara ibunda bekerja sebagai penjahit.

p>Di Malaysia, sang ayah bekerja keras sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di perkebunan sawit di Selangor, wilayah yang tidak jauh dari Kuala Lumpur. Hasil kerja keras ayahnya itu dikirim secara rutin untuk membiayai pendidikan Dim dan saudara-saudaranya di Tanah Air. Dim menyelesaikan pendidikan SMP di Rejotangan, melanjutkan ke SMK di Blitar, dan akhirnya menembus teknik mesin ITN Malang.

Lama-kelamaan, sang ibu membuka usaha kecil-kecilan di Selangor, berjualan kacang dan kerupuk. Melihat orang tuanya di sana, Dim memutuskan untuk melanjutkan studi S-2 di Malaysia agar bisa dekat dengan keluarga.

Membangun Bisnis dari Rasa Kangen

Saat menempuh pendidikan magister, pikiran Dim tidak lepas dari kebutuhan ekonomi. Ia memutuskan untuk terjun ke dunia usaha, mengembangkan skala bisnis toko kecil milik ibunya. Peluang itu ia dapatkan dari kerinduan warga Indonesia di sana akan masakan kampung halaman.

Dim bolak-balik melakukan perjalanan dari Selangor ke Tulungagung untuk kulakan barang. Ia mencari produk-produk dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), mulai dari kerupuk, kue kering, hingga petis. Dari sinilah CV Sadean Internasional lahir untuk mengakomodir aktivitas dagangnya.

Usaha ini terus berkembang. Dari sekadar mengimpor barang untuk toko keluarga, ia mendirikan toko grosir bahan makanan Indonesia. Bentuk usahanya pun berubah dari CV menjadi PT. Kini, Indogrosir Group—nama besar yang ia dirikan— telah memiliki 10 gerai grosir yang tersebar di 10 negara bagian di Malaysia. Volume ekspornya kini telah menembus lebih dari 10 kontainer per bulan.

Strategi Nama dan Identitas Baru

Kesuksesan ini membawa perubahan dalam cara orang memanggilnya. Teman-temannya mulai tidak lagi memanggilnya Dim, melainkan 'Datuk'. Mengamati fenomena ini, Dim kemudian memperkenalkan diri sebagai Datuk Diraja Dimyani di kalangan bisnis, hingga akhirnya menggunakan nama lengkap yang sangat panjang: Raden Datuk Diraja Mohammad Iman Hascary Kusumo.

blockquote>"Itu bukan nama resmi saya. Itu nama dagang saya," ujar Dim. Ia menjelaskan dengan tegas bahwa gelar Datuk Diraja sebenarnya tidak ada dalam sistem gelar kebangsawanan Malaysia.

Namun, strategi branding ini terbukti ampuh. Dengan nama 'Datuk', usahanya kian dikenal luas. Kesuksesan Indogrosir kini tidak hanya dirasakan di Malaysia, tetapi telah menjadi jembatan bagi produk UMKM Indonesia untuk masuk ke pasar internasional.

Lelaki Pencari Jejak Dunia

Di luar kesibukan bisnis, pria yang kini berkewarganegaraan Malaysia—bersama dua saudaranya—ini memiliki ketertarikan besar pada traveling. Baru-baru ini, ia menyempatkan diri bertemu dengan Dahlan Iskan di Pacet, Jawa Timur. Dalam pertemuan tersebut, ia bercerita tentang perjalanannya ke berbagai belahan dunia.

p>Datuk mengisahkan pengalamannya mencoba menonton Piala Dunia di Mexico City. Meskipun gagal mendapatkan tiket pertandingan, ia tetap antusias merasakan euforia di sekitar stadion. Perjalanannya berlanjut ke Bogota, Kolombia, di mana ia membandingkan sistem busway di sana dengan Transjakarta. Petualangannya makin ekstrem saat ia terbang selama 1,5 jam menuju Leticia, sebuah kota kecil di tepi Sungai Amazon.

p>Keunikan Leticia adalah lokasinya yang berada di perbatasan tiga negara sekaligus: Kolombia, Brasil, dan Peru. Datuk bercerita ia cukup datang ke pertigaan jalan; melangkah sedikit ke sisi kini berarti masuk Brasil, dan ke sisi lain berarti sudah di Peru. Semua itu bisa dilalui tanpa proses imigrasi yang rumit, meski kawasan itu jauh dari pusat keramaian.

Kini, daftar negara yang pernah ia kunjungi sudah bertambah menjadi 53 negara. Bagi banyak pengamat, kisah Datuk adalah gambaran nyata seorang perantau yang berhasil mentransformasi nasibnya melalui ketekunan dan strategi bisnis yang tepat, jauh dari stereotipe negatif tentang eksodus pencari kerja.