Cuaca kering yang belakangan terasa di berbagai daerah bukan sekadar siklus musiman biasa. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada kekuatan alam yang lebih besar sedang bekerja: El Nino. Dan yang membuat banyak pihak perlu bersiap lebih awal, fenomena ini diperkirakan tidak akan cepat pergi.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa lembaganya telah melaporkan temuan ini langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah rapat terbatas. Dalam paparannya saat konferensi pers daring di Jakarta, Kamis (30/7), Faisal menyebut El Nino diperkirakan masih akan terasa dampaknya setidaknya sampai awal kuartal pertama 2027.
Bukan tanpa alasan BMKG berani memberi proyeksi sejauh itu. Faisal menjelaskan, dinamika iklim global saat ini memang sedang mengarah pada dominasi cuaca kering yang berkepanjangan.
Angka-angka yang Jadi Dasar Peringatan
Ada dua indikator utama yang dipakai BMKG untuk membaca situasi ini. Pertama, indeks Niño 3.4 yang pada dasarian terakhir tercatat di angka +2.26. Kedua, Southern Oscillation Index (SOI) yang berada di level -28,2.
Bagi orang awam, dua angka itu mungkin tak berarti banyak. Namun bagi BMKG, kombinasi keduanya menjadi sinyal kuat bahwa El Nino kali ini bukan kejadian ringan. Faisal menyebutnya sebagai El Nino Event berintensitas kuat, dan yang lebih mengkhawatirkan, berpotensi terus menguat sepanjang tahun ini.
Sudah Melewati Batas “Kuat”
Penjelasan lebih rinci datang dari Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan. Ia menyebut bahwa berdasarkan pemantauan suhu permukaan laut di Pasifik, indeks Niño 3.4 sudah menyentuh angka lebih dari 1,56 derajat Celsius. Padahal, ambang batas untuk kategori El Nino kuat sendiri sudah ditetapkan di atas 1,5 derajat Celsius.
Artinya, fenomena ini bukan lagi sekadar mendekati kategori kuat, tapi sudah melampauinya.
Ardhasena juga menyoroti kondisi di Samudra Hindia, di mana indeksnya justru menunjukkan nilai negatif sebesar -0,38. Situasi ini, menurutnya, membuka kemungkinan munculnya fenomena lain bernama Indian Ocean Dipole. Jika dua fenomena ini terjadi bersamaan, efek pemanasan yang dirasakan bisa semakin terasa.
Puncaknya Diperkirakan di Ujung 2026
Berdasarkan proyeksi BMKG, titik tertinggi El Nino kali ini diperkirakan jatuh pada Desember 2026 atau Januari 2027. Ardhasena bahkan menyebut ada kemungkinan fase puncak ini melampaui batas kategori El Nino kuat yang sudah ada saat ini.
Jadi gambarannya kira-kira begini: dampak paling berat diperkirakan muncul di penghujung 2026 sampai awal 2027, sementara pengaruh El Nino secara keseluruhan diprediksi masih akan terasa hingga awal kuartal pertama 2027.
Berpotensi Jadi “Super El Nino”
Dari sisi riset, peringatan serupa juga datang dari Profesor Riset di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin. Ia membandingkan langsung kondisi saat ini dengan El Nino yang terjadi pada 2023.
“Kalau kita bicara dampak untuk kasus El Nino 2023 yang suhu maksimum intensitasnya hanya 1,6 (derajat Celsius), sekarang kedudukannya, posisinya El Nino saat ini dalam pantauan satelit itu sudah 1,74 (derajat Celsius),” ujar Erma.
Angka itu, kata Erma, sudah melampaui rekor tertinggi El Nino 2023, dan tren peningkatannya belum berhenti. Ia memperkirakan pada Agustus, intensitasnya bisa menembus ambang 2 derajat Celsius. Jika itu terjadi, fenomena tersebut akan masuk kategori yang disebutnya sebagai El Nino “super”.
“Sudah harus dipahami bahwa El Nino saat ini yang 2026 dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan El Nino 2023, karena intensitasnya saja sekarang sudah lebih tinggi daripada intensitas maksimum El Nino 2023,” tegas Erma.
Perbandingan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa yang dihadapi kali ini bukan sekadar pengulangan dari kejadian sebelumnya, melainkan versi yang secara data sudah lebih intens sejak awal.
Efek Domino yang Perlu Diwaspadai
Bagi Indonesia, dampak El Nino bukan cuma soal cuaca panas yang bikin gerah. BMKG mengingatkan bahwa sejumlah wilayah akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus, dan itu punya efek berantai.
Dari sisi lingkungan, risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan meningkat. Kualitas udara pun berpotensi memburuk akibat naiknya konsentrasi polutan. Pada gilirannya, kondisi ini bisa memicu masalah kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga gangguan akibat suhu ekstrem.
Ancaman bagi Petani dan Krisis Air
Sektor yang juga masuk radar perhatian BMKG adalah pertanian dan ketersediaan air. El Nino berpotensi mengganggu fase pertumbuhan tanaman, menurunkan hasil panen, hingga meningkatkan risiko puso atau gagal panen akibat kekurangan air.
Karena itu, BMKG mendorong langkah antisipasi dilakukan sejak sekarang, bukan menunggu dampaknya benar-benar terasa. Beberapa langkah yang disarankan antara lain menyesuaikan pola tanam, memperbaiki efisiensi sistem irigasi, serta memanfaatkan data iklim sebagai acuan dalam mengambil keputusan di lapangan.
Proyeksi BMKG bahwa El Nino masih akan berlangsung hingga awal 2027 sebenarnya memberi ruang bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat untuk bersiap lebih matang. Perencanaan yang dilakukan dari sekarang bisa jadi kunci untuk meredam dampak buruk terhadap ketersediaan air, produksi pangan, dan kesehatan masyarakat, terutama menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan jatuh pada Agustus.
Meski demikian, situasi iklim tetap dinamis dan bisa berubah seiring pemutakhiran data. Karena itu, memantau informasi resmi dari BMKG dan lembaga terkait tetap menjadi langkah paling bijak ke depannya.



