Zhu Rongji, mantan Perdana Menteri Tiongkok yang dikenal dengan ketegasan luar biasa dalam memberantas korupsi, meninggal dunia pada 12 Agustus 2026 dalam usia 97 tahun. Kabar ini mengakhiri rentang waktu 23 tahun misteri keberadaannya, di mana sosok yang pernah sangat populer itu memilih menghilang total dari publik setelah turun jabatan. Kepergiannya membawa kembali ingatan kolektif akan warisan keberaniannya, khususnya kutipan legendaris mengenai 100 peti mati yang disiapkan untuk para koruptor dan satu untuk dirinya sendiri.
Budaya Politik Tanpa Kacamata Hitam
>Budaya politik di Tiongkok mengajarkan sebuah pelajaran unik tentang kesederhanaan dan konsistensi. Tidak seperti di banyak negara lain di mana mantan pemimpin kerap kali masih berbicara lantang atau terlibat dalam urusan kepartaian, para pensiunan petinggi Tiongkok memilih menjadi pertapa. Hal ini tidak hanya berlaku pada Zhu Rongji, tetapi juga pada Jiang Zemin, Presiden yang menjabat saat Zhu menjadi Perdana Menteri. Jiang Zemin sendiri adalah figur transformator yang mengubah ideologi Partai Komunis Tiongkok dari partai yang hanya mengakar pada buruh dan tani, menjadi partai berkaki tiga dengan memasukkan pengusaha sebagai salah satu pilar utamanya.Keberanian Jiang mengintegrasikan para kapitalis ke dalam tubuh partai komunis adalah sebuah ironi sejarah yang berhasil. Ia membuktikan bahwa pengusaha bisa menjadi soko guru partai yang lahir dari gerakan anti-kapitalisme. Namun, setelah tidak menjabat, kekuatan sebesar Jiang Zemin pun seketika lenyap dari permukaan media. Namanya hilang seolah-olah ditelan bumi, menunjukkan disiplin tinggi dalam budaya politik mereka untuk tidak mencawe-cawe setelah pensiun.
Warisan 100 Peti Mati bagi Para Koruptor
>Nama Zhu Rongji kerap disebut di berbagai media internasional, termasuk di Indonesia, sebagai simbol ketegasan anti-korupsi. Ucapannya yang paling melegenda adalah kesiapan menyediakan 100 peti mati, 99 di antaranya untuk koruptor dan satu sisanya untuk dirinya. Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah komitmen eksistensial bahwa ia siap mati di tangan para koruptor yang dendam atas kebijakan tegasnya.Istilah '100 peti mati' ini menjadi semacam mantra yang hidup abadi di tengah kampanye pemberantasan korupsi di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, kata-kata tersebut hampir sepopuler ucapan Presiden Prabowo Subianto tentang mengejar koruptor sampai ke Antartika. Keduanya mencerminkan intensitas dan niat politik yang keras untuk memberantas penyakit korupsi yang merajalela. Meninggalnya Zhu Rongji tentu tidak membuat semangat itu ikut terkubur, justru warisan verbal itu akan terus dikutip oleh generasi penerus yang mendambakan tata kelola yang bersih.
Kenangan Nanjing dan Transformasi Besar
>Kabar wafatnya Zhu Rongji juga membawa Dahlan Iskan kembali mengenang momen pertemuan terakhirnya di Nanjing, Jiangsu, tahun 2001. Saat itu, Tiongkok berada di ambang pintu masuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Dunia Barat saat itu sedang gencar merayu Tiongkok untuk bergabung dengan harapan bisa mendisiplinkan Negeri Tirai Bambu tersebut lewat aturan dagang internasional. Namun, di balik rayuan tersebut, terjadi kegelisahan di kalangan pengusaha dalam negeri yang takut kehilangan kebebasan berdagang, sebuah kekhawatiran yang terbukti keliru melihat geliat ekonomi Tiongkok selanjutnya.Nanjing, yang pernah menjadi ibu kota Tiongkok, saat itu masih dalam tahap awal modernisasi. Kota itu terlihat kumuh dengan jalan yang baru saja dilebarkan dan masih berdebu. Namun, ada satu detail yang menangkap perhatian Dahlan Iskan dan membekas di ingatannya. Pihak kota menanam pohon-pohon besar langsung di pinggir jalan, bukan bibit kecil. Pohon yang ditanam sudah memiliki ukuran sebesar tubuh orang dewasa. Hal ini kontras dengan kebiasaan di Indonesia yang kerap menanam bibit kecil dan harus menunggu lebih dari sepuluh tahun untuk merasakan rindangnya. Pengamatan ini kemudian menjadi inspirasi bagi Dahlan Iskan untuk selalu menanam pohon besar dalam setiap pembangunan propertinya, karena ketidaksabaran menunggu kesejukan.
Sebagai salah satu pemimpin besar Tiongkok modern, Zhu Rongji meninggalkan warisan kepemimpinan yang bersih. Ia dan generasi pemimpin di masanya menunjukkan integritas dengan tidak ikut campur dalam urusan negara setelah pensiun. Tidak ada mantan presiden atau perdana menteri yang mendirikan partai politik untuk anaknya atau kepentingan keluarga. Mereka mengerti bahwa saatnya berakhir, maka panggung harus sepenuhnya diserahkan kepada generasi berikutnya.




