Pertemuan tahunan bertajuk Muktamar Disway yang digelar di Gondang, Jawa Timur, kembali menjadi magnet bagi berkumpulnya para tokoh dari berbagai latar belakang. Acara ini bukan sekadar ajang silaturahmi biasa, melainkan panggung unik bagi para perusuh yang identitasnya kerap kali misterius namun menarik untuk diulas. Dalam gelaran terbaru tersebut, sorotan utama tertuju pada kehadiran sosok senja yang masih memiliki vitalitas luar biasa serta kisah perjuangan seorang pengusaha wanita dalam menghadapi penyakit berat.

Vitalitas Sujatmiko Sang Ahli Geologi

Salah satu figur yang menonjol adalah Sujatmiko, seorang ahli geologi lulusan ITB yang telah menginjak usia 85 tahun. Meski sudah sepuh, pria kelahiran Pamekasan ini mempertontonkan kesehatan fisik yang mengagumkan. Ia terlihat bugar dan masih mampu mengikuti rangkaian acara dengan penuh semangat, termasuk sesi olahraga Senam DI yang berlangsung selama satu jam tanpa henti. Riwayat kariernya di bidang perminyakan dan geologi, serta pengalaman studi di Prancis dan Amerika Serikat, menambah kedalaman kapasitas intelektualnya.

Menariknya, Sujatmiko membawa serta sepuluh koleksi batu berharga sebagai oleh-oleh. Koleksi tersebut bervariasi, mulai dari batu akik asli hingga batu kalkopirit yang diperkirakan berusia antara 20 hingga 25 juta tahun. Salah satu batu kuno itu bahkan diserahkan secara khusus untuk dipajang di kantor redaksi. Kejutan lain tercipta ketika Sujatmiko tiba-tiba memimpin para peserta untuk menyanyikan lagu Bagimu Negeri ciptaan Kusbini. Aksi spontan ini dilakukannya untuk menanamkan rasa bangga, menganggap lagu tersebut setara dengan God Bless America yang sering berkumandang di negara adidaya tersebut.

Kisah Agustina Mardiko Wati Lawan Kanker

Selain Sujatmiko, bintang lain yang bersinar adalah Agustina Mardiko Wati, seorang pengusaha alat berat asal Solo yang kini menetap di Semarang. Wanita yang merupakan alumni satu sekolah dengan Presiden Jokowi saat SMP ini memiliki perjuangan hidup yang berat. Mardiko Wati didiagnosis menderita kanker paru dan harus berjuang secara administratif untuk mendapatkan obat mahal dari BPJS yang harganya mencapai Rp 4,5 juta per kapsul dan harus dikonsumsi rutin setiap hari selama tiga bulan.

Setelah melewati fase pengobatan medis yang berat, Mardiko memutuskan untuk menempuh jalur penyembuhan alternatif melalui meditasi Usada Merta Ada di Bali. Setiap bulan, ia rela terbang ke Bali untuk menjalani semedi selama seminggu penuh tanpa gadget dan tanpa berbicara. Anak sulungnya pun ikut serta dalam proses ini. Dalam muktamar tersebut, ia memimpin sesi meditasi malam dengan penuh penghayatan, memadamkan seluruh lampu untuk menciptakan keheningan total. Ia mengungkapkan bahwa transisi dari keheningan meditasi kembali ke hiruk pikuk dunia nyata, seperti di bandara, seringkali memicu rasa 'bising' yang berlebihan dan membutuhkan waktu adaptasi hingga tiga hari.

Warna Lain dari Para Peserta

Acara ini juga dihadiri oleh peserta yang datang dari jauh, seperti Fransiska Jappy asal Batam yang berjuang mendapatkan izin dari suaminya untuk hadir. Tuan rumah pertama muktamar di Cikeusik, Rifda Ammarina, turut serta meski harus memasak sendiri karena alergi gluten. Keberadaan para veteran seperti Udin Salemo dan Cak Mul melengkapi ramainya pertemuan tersebut. Muktamar ini berhasil membuktikan bahwa di balik label perusuh, terdapat kisah-kisah manusia yang inspiratif, penuh perjuangan, dan memiliki kepedulian mendalam terhadap berbagai aspek kehidupan.