Pameran helikopter tingkat Asia, Heli Expo Asia (Hexa), yang baru saja dibuka di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menyajikan kejutan istimewa. Di antara deretan pesawat canggih dari berbagai negara, sorotan publik tertuju pada sebuah prototipe bernama Vela. Ini adalah pesawat buatan anak bangsa yang mengusung konsep helikopter namun dengan mekanisme dan teknologi yang jauh berbeda. Meski komponen mesin penggeraknya belum terpasang sepenuhnya untuk pameran, kehadiran Vela cukup untuk mencuri perhatian pengunjung dan menjadi daya tarik utama ajang pameran tersebut.
Konsep Terbang dengan Delapan Baling-baling
>Vela dirancang memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal layaknya helikopter pada umumnya. Namun, setelah berada di udara, pesawat ini bergerak maju seperti pesawat terbang biasa. Perbedaan mendasar terletak pada desain propulsinya. Vela tidak mengandalkan satu baling-baling rotor besar di atas, melainkan menggunakan delapan baling-baling kecil yang disusun di bagian atas bodi pesawat untuk fungsi pengangkat. Satu baling-baling tambahan ditempatkan di bagian belakang berfungsi sebagai pendorong untuk gerakan maju.
>Donny Parya, Kepala Program sekaligus Kepala Desain Vela, menjelaskan bahwa keunikan desain ini membawa dampak signifikan terhadap tingkat kebisingan. Karena seluruh motornya menggunakan tenaga listrik, suara yang dihasilkan jauh lebih halus dibanding helikopter konvensional yang bertenaga turbin. "Suara bising yang ditimbulkan Vela hanya separo dari kebisingan helikopter," ujar Donny. Selain aspek kenyamanan suara, penggunaan delapan motor pengangkat juga ditujukan untuk standar keselamatan tinggi. Sistem ini memastikan bahwa jika salah satu mesin mengalami kegagalan di udara, pesawat tetap dapat terbang dengan aman.
Dedikasi Mantan Insinyur PT Dirgantara Indonesia
>Di balik lahirnya Vela terdapat sentuhan tangan dingin Donny Parya, seorang insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan mesin. Pria ini telah menghabiskan karir selama 30 tahun di PT Dirgantara Indonesia, perusahaan pesawat terbang kebanggaan Presiden ke-3 RI, BJ Habibie. Setelah masa baktinya di PT DI berakhir dan perusahaan tersebut tutup, semangat Donny untuk menciptakan pesawat tidak surut. Berbagai pengalaman ia kumpulkan hingga akhirnya dua tahun lalu, ia dipercaya oleh Whitesky Group, induk perusahaan taksi udara di Indonesia, untuk memimpin proyek ambisius ini.
>Proses pengembangan Vela berlangsung di sebuah workshop milik Whitesky Group yang terletak di Cimahi, Jawa Barat. Lokasi ini berada tidak jauh dari kawasan industri penerbangan di Bandung. Meski awalnya berencana memanfaatkan fasilitas PT DI, tim pengembangan akhirnya mampu membangun badan pesawat secara mandiri di workshop mereka sendiri. Salah satu kebanggaan Donny adalah kemandirian rantai pasok bahan baku. Ia menegaskan bahwa semua kebutuhan material karbon komposit untuk badan pesawat dipasok oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang telah memiliki kapabilitas teknis memadai.
Masa Depan Transportasi Perkotaan
>Vela didesain khusus untuk menjawab kebutuhan transportasi udara di perkotaan yang semakin padat. Dengan ketinggian terbang maksimum sekitar 5.000 kaki atau 1.600 meter, pesawat ini tidak memerlukan sistem tekanan kabin khusus. Hal ini membuat biaya produksi dapat ditekan jauh lebih rendah dibandingkan dengan pembuatan pesawat komersial berukuran besar. Dari sisi performa, Vela mampu melaju dengan kecepatan 250 kilometer per jam, setara dengan kecepatan jelajah helikopter biasa.
>Kehadiran Vela pada saat ini sangat tepat mengingat kemajuan teknologi baterai yang pesat. Harga baterai yang kini turun drastis, hanya menyisakan 25 persen dari harga pada tahun 2010 lalu, membuat kendaraan bertenaga listrik menjadi opsi yang sangat feasible. Sebagai kendaraan berbaterai, Vela tentu tidak akan terkendala masalah uji emisi gas buang. Target penyelesaian proyek ini pun sudah di depan mata. Donny memperkirakan bahwa tahun depan Vela sudah bisa melakukan uji terbang. Selain menjadi transportasi umum atau kendaraan pribadi baru berkapasitas dua orang, potensi penggunaan Vela sebagai ambulans terbang juga membuka harapan baru dalam layanan kesehatan darurat di Indonesia.