Sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat kemarin menyisakan kesan mendalam bagi kalangan pasar uang. Rasa lega menjadi dominan karena tidak ada kejutan yang mengguncang, sehingga suasana berlangsung kondusif. Presiden Prabowo Subianto tampil berpidato dengan penuh percaya diri, mengenakan setelan jas biru tua yang dipadukan dengan kemeja dan dasi senada. Tampilannya yang segar menunjukkan vitalitas tinggi meskipun menjalani jadwal padat sejak awal menjabat, memberikan sinyal positif mengenai stamina pemimpin nasional.
Tegas Soal Tambang Ilegal dan Kinerja BUMN
Salah satu poin utama yang menonjol adalah sorotan tajam Presiden terhadap praktik tambang ilegal. Ia menyuarakan tekad untuk membongkar habis operasi tambang yang berjalan di luar hukum. Tekanan itu tidak main-main, ia berani menyebut bahwa di balik tambang ilegal seringkali ada perlindungan dari oknum berpangkat tinggi, dan siap menindak siapa pun yang terbuktu terlibat. Sikap keras ini sejalan dengan kinerja sejumlah Badan Usaha Milik Negara yang kini mulai memetik hasil setelah dibenahi, terutama dalam sektor pertambangan.
PT Timah menjadi contoh konkret yang dipuji karena melaporkan kenaikan laba hingga 900 persen. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa pembersihan korupsi di sektor pertambangan, khususnya di Bangka, berjalan efektif. Di sektor lain, Menteri Koordinator Pangan Amran Sulaiman menerima apresiasi tinggi atas keberhasilan program pangan. Harga pupuk yang turun hingga 20 persen disambut baik oleh petani, pencapaian yang tetap mampu mendorong kenaikan laba PT Pupuk Indonesia sebesar 200 persen.
Disiplin Waktu dan Adaptasi Gaya Baru
Kekhawatiran sempat muncul menjelang acara mengingat sidang digelar pada hari Jumat. Banyak pihak berspekulasi apakah pidato akan molor dan mengganggu waktu salat. Namun, Presiden membuktikan dirinya sangat memperhatikan etika dan waktu. Saat protokol memberi sinyal waktu hampir habis, ia dengan tenang menjelaskan bahwa azan baru berkumandang pukul 12.00, sementara saat itu baru menunjuk pukul 11.40. Ini adalah perubahan signifikan mengingat Presiden kerap berimprovisasi dan melampaui batas waktu dalam pidato-pidato sebelumnya.
Jika membandingkan dengan presiden-presiden terdahulu, Soeharto dikenal sangat tertib namun kerap dianggap monoton karena pidatonya singkat dan kaku. SBY juga tergolong disiplin terhadap jadwal. Kali ini, Prabowo tampaknya mengambil jalan tengah dengan tetap improvisasi namun terkendali. Nuansa berbeda juga hadir melalui adopsi gaya pidato kenegaraan khas Amerika Serikat, di mana presiden tidak hanya berbicara tentang kebijakan makro, tetapi juga memberikan panggung kepada warga biasa yang menjadi inspirasi.
Spotlight bagi Siswa Sekolah Rakyat
Dalam sidang tersebut, kursi VIP diisi oleh siswa-siswi dari Sekolah Rakyat, sekolah khusus untuk anak keluarga paling miskin yang merupakan program unggulan di masa pemerintahan baru. Presiden memperkenalkan mereka satu per satu, disambut tepuk tangan meriah hadirin. Salah satu siswa yang diperkenalkan adalah Rizky. Setiap hari ia harus bersepeda puluhan kilometer sambil membawa beban 30 kg barang dagangan untuk bertahan hidup. Sebelum masuk sekolah ini, Rizky bahkan belum bisa membaca dan berhitung.
Hadir pula Dewi Lestari, siswi asal Majene, Sulawesi Selatan yang baru berusia 10 tahun. Di usianya yang masih dini, ia sudah menyandang predikat juara karate tingkat kabupaten dan harus bekerja keras mengurus ibunya yang menyandang disabilitas. Presiden dengan gaya khasnya bercanda, berpesan agar Dewi baru boleh berpacar jika sudah menyandang sabuk hitam agar tidak ada yang berani mengganggunya. Moment ini menunjukkan sisi humanis pemimpin di tengah derap kebijakan ekonominya.
Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi elit politik. Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, berhalangan hadir karena sedang berada di luar negeri, namun posisinya terwakili oleh putranya, Menko Agus Harimurti Yudhoyono. Presiden kelima Megawati Soekarnoputri juga absen dengan alasan ada acara lain, dan digantikan oleh Ketua DPR Puan Maharani. Presiden Joko Widodo tampak hadir dengan kesehatan yang prima, duduk bersebelahan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dengan sigap berdiri saat namanya dipanggil dalam sambutan presiden.




