Tepat pada 26 Agustus ini, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memasuki usia emas yang setengah abad. Di tengah berbagai dinamika politik dan sosial yang terjadi di Tanah Air, perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) ini justru mencuri perhatian dengan optimisme baru. Momentum ulang tahun ke-50 ini tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi penanda kebangkitan industri penerbangan nasional lewat karya terbaru mereka, pesawat N219. Pesawat berkapasitas 19 penumpang ini menjadi bukti nyata kemandirian teknologi, karena seluruh proses perancangan hingga pembuatannya dikerjakan sepenuhnya di Bandung oleh tangan-tangan terampil anak bangsa.
Figur di Balik Kokpit: Gita Amperiawan
Di balik rencana besar ini terdapat sosok Marsma TNI (Purn) Gita Amperiawan, Direktur Utama PT DI yang menjabat sejak 2022. Gita bukanlah sosok sembarangan dalam dunia dirgantara. Lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1985 ini memiliki rekam jejak akademis yang mumpuni, termasuk mendapatkan beasiswa dari BJ Habibie untuk melanjutkan studi di Inggris. Ia menguasai ilmu material canggih kedirgantaraan dan meraih doktor dari Cranfield University dengan disertasi mengenai pengendalian suhu panas turbin. Keahliannya tidak hanya berhenti pada teknis, tetapi merambah hingga strategi bisnis, ditandai dengan gelar MBA yang ia sandang pula.
Kombinasi latar belakang militer dan keahlian teknis menjadikan Gita sosok yang tepat untuk membenahi PT DI. Ia menyadari bahwa kelemahan utama perusahaan ini selama ini adalah ketergantungan yang berlebihan pada pemasok dari Eropa dan Amerika. Kondisi ini membuat rantai pasok rentan dan seringkali terkendala masalah keuangan, mengingat reputasi kemampuan bayar PT DI di masa lalu tidak selalu mulus. Untuk itu, langkah strategis mulai diambil agar PT DI tidak hanya menjadi perakit, tetapi memiliki kedaulatan dalam produksi.
N219 dan Peluang Pasar Global
Pesawat N219 hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut. Gita menegaskan bahwa tidak ada keterlibatan pihak asing dalam pembuatannya, sebuah capaian yang membanggakan di tengah ketatnya kompetisi industri dirgantara dunia. Peluang pasar tidak hanya diincar dari dalam negeri. Gita melihat celah besar di Amerika Latin, khususnya negara-negara penutur bahasa Spanyol yang pengguna pesawat Casa. Banyak pesawat mereka yang terpaksa grounded atau tidak terbang karena kendala pemeliharaan dan ketersediaan suku cadang.
Keahlian Gita di bidang pemeliharaan pesawat, yang pernah ia pegang saat menjadi Kepala Direktorat Pemeliharaan Mabes TNI AU, kini menjadi senjata ampuh. PT DI mengincar pasar bisnis pemeliharaan ini, bahkan hingga tingkat recoating blade turunan pesawat. Hasilnya pun mulai terlihat. Negeri seperti Peru sudah memesan lima unit N219, sementara di dalam negeri, sebuah perusahaan penerbangan carter telah melakukan pemesanan tiga unit. Tantangan besar kemudian datang ketika Presiden Prabowo Subianto memberikan order sebanyak 80 pesawat, sebuah jumlah yang jelas menguji kapasitas produksi dan manajemen modal kerja.
Inovasi Rantai Pasok dan Skema Sewa Pakai
Untuk memenuhi target produksi tersebut, PT DI tidak bisa lagi bergantung pada cara lama. Gita mulai menjajaki alternatif pemasok baru dari Kanada, Tiongkok, dan Brasil yang mungkin bisa memberikan dukungan lebih fleksibel. Ia juga mendorong penggunaan komponen lokal, dengan berhasilnya perusahaan dalam negeri memasok kebutuhan karbon komposit. Namun, hal yang paling menarik perhatian adalah ide kreatif Gita mengenai skema pendanaan.
Terinspirasi dari model bisnis mesin fotokopi hingga mesin MRI di rumah sakit yang menggunakan sistem sewa pakai atau bagi hasil berdasarkan penggunaan, Gita berpikir untuk menerapkan hal serupa pada mesin pesawat. Ia berharap bisa meyakinkan produsen mesin, mungkin dari Tiongkok, untuk menerapkan sistem ini. Jangan-jangan cara inilah yang kunci untuk menyelesaikan order 80 pesawat tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara berlebihan. Dengan pendekatan ini, PT DI bisa bergerak lebih lincah ke pasar komersial.
Masa Depan Penerbangan Perintis
Selain pasar ekspor, potensi domestik juga menjadi fokus utama. N219 dinilai sangat cocok untuk melayani penerbangan perintis di Indonesia yang geografisnya berupa kepulauan. Regulasi yang mewajibkan penggunaan pesawat bermesin ganda untuk rute perintis menjadi keuntungan tersendiri bagi N219, menggantikan posisi pesawat bermesin tunggal yang selama ini dominan namun memiliki risiko keselamatan lebih tinggi.
Perjalanan 50 tahun bagi PT DI mungkin penuh pasang surut, namun di bawah kepemimpinan baru dan dengan produk andalan N219, sebuah bab baru sedang ditulis. Seperti halnya nama belakang Gita, Amperiawan, yang diambil dari semangat Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) era kelahirannya tahun 1966, semangat membangun kebanggaan nasional kini mengalir kembali di Bumi Parahyangan. Ulang tahun emas ini bukan sekadar pengingat usia, melainkan sebuah deklarasi bahwa kehidupan baru bagi industri dirgantara Indonesia baru saja dimulai.




