Sebuah pertemuan unik yang digelar di DIC Farm, Gondang, dekat Pacet, menjadi sorotan bukan hanya karena keramahan tuan rumah, tetapi juga karena bahan pembuatan meja panjang yang digunakan para tamu. Meja tersebut ternyata terbuat dari kayu randu, jenis pohon yang kini semakin langka keberadaannya. Awalnya, tuan rumah bermaksud menunjukkan kesederhanaan tempatnya dengan menyebutkan bahwa meja itu dibuat dari kayu yang tidak laku dijual dan bahkan tidak layak untuk kayu bakar. Namun, pernyataan ini justru memicu reaksi tak terduga dari salah seorang tamu yang hadir dalam acara tersebut.

Dari Pohon Penghalang ke Komoditas Ekspor

>Sumhaji, seorang pengusaha asal Konawe, Sulawesi, yang memiliki darah asli dari Batu, Malang, langsung menanggapi cerita tentang kayu randu tersebut. Ia mengungkapkan kekhawatirannya atas langkanya pohon randu yang kian sulit ditemukan. Bagi Sumhaji, pohon yang oleh banyak orang dianggap gulma ini ternyata merupakan sumber penghidupan yang sangat berharga. Ia mengaku sebagai eksportir kapok randu yang memasok komoditas tersebut hingga ke pasar Eropa.

Dulunya, pohon randu banyak tumbuh di pinggir jalan, namun pembangunan infrastruktur dan pelebaran jalan membuat populasinya menurun drastis. Kini, Sumhaji harus berburu kapok randu hingga ke pulau Sumbawa untuk memenuhi permintaan pasarnya. Di mata dunia internasional, kapuk randu memiliki nilai jual tinggi, terutama untuk bahan bantal dan kasur. Tren penggunaan kapok di Eropa kini kembali naik daun seiring meningkatnya gerakan pelestarian satwa dan anti-kekejaman terhadap hewan. Masyarakat Eropa mulai beralih dari bantal bulu angsa ke kapok randu yang lebih ramah lingkungan.

Menariknya, dalam percakapan tersebut terungkap pula sejarah unik mengenai bantal dan guling dalam budaya Indonesia. Sementara kapok randu dikenal sebagai pengisi bantal tradisional yang dingin di musim panas dan hangat di musim dingin, guling justru memiliki akar sejarah kolonial. Guling dikatakan lahir pada masa penjajahan Belanda ketika para pejuang dan tentara jauh dari istri, sehingga mereka membuat bantal gulung untuk dipeluk. Dalam bahasa Inggris, benda ini dikenal dengan istilah "Dutch wife" atau istri Belanda, sebuah sebutan yang cukup ekletik bagi budaya lokal.

Inovasi Roti Aroma Kopi untuk Hilangkan Bau Obat

Selain kisah tentang kapok randu, pertemuan tersebut juga memunculkan ide bisnis unik lainnya yang dikembangkan oleh Ahmad Reza Ropi. Pria ini berhasil menemukan celah pasar yang sangat spesifik dengan menciptakan roti beraroma kopi yang diberi merek Ropi. Ide tersebut berawal dari keluhan seorang direktur rumah sakit yang ingin menghilangkan bau obat yang menyengat di lingkungan rumah sakitnya. Sang direktur terinspirasi oleh kenyamanan aromatik yang dirasakannya ketika melintas di depan toko roti.

Menerima tantangan tersebut, Reza yang beristerikan cucu seorang pembuat roti pada zaman Belanda, mulai mengembangkan formulasi roti dengan aroma kopi yang khas. Hasilnya sangat efektif, aromanya mampu menetralkan bau obat di rumah sakit, memberikan rasa nyaman bagi para pasien dan pengunjung. Kini, bisnis Ropi telah berkembang pesat dengan memiliki lebih dari 130 outlet yang tersebar di berbagai rumah sakit tipe C. Strategi Reza memang terfokus pada rumah sakit tipe C, mengingat rumah sakit kelas atas biasanya telah memiliki sistem pengelolaan aromatik tersendiri.

Pentingnya Waktu Kosong dalam Networking

Di balik dua kisah inspiratif tersebut, terselip satu pelajaran berharga dari penyelenggaraan acara tersebut. Tuan rumah sengaja membuat agenda acara yang singkat dan padat, sengaja menyisakan banyak waktu kosong di antara sesi. Ternyata, strategi ini membuahkan hasil yang luar biasa. Para peserta tampak lebih aktif berinteraksi dan membangun jaringan atau networking pada waktu-waktu luang tersebut dibandingkan ketika sesi resmi berlangsung.

Tidak ada satu pun peserta yang terlihat sekadar bermalas-malasan. Ruang kosong justru menjadi lahan subur bertukar ide dan pengalaman, seperti terlihat dari diskusi hangat mengenai kapok randu dan inovasi roti Ropi. Momen ini membuktikan bahwa terkadang, produktivitas terbaik tidak selalu lahir dari keterikatan jadwal yang ketat, melainkan dari keleluasaan waktu yang memungkinkan terjadinya koneksi spontan antarindividu.