Nuansa kebersamaan sangat terasa di Museum Hakka, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, saat seminar kebangsaan digelar belum lama ini. Di antara para tokoh yang hadir, kehadiran Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi sorotan utama. Ia berada di panggung yang sama bersama Teuku Azmi Abubakar, seorang tokoh Aceh yang dedikasinya melestarikan pustaka Tionghoa Peranakan di Banten patut diacungi jempol. Acara tahunan ini, yang melibatkan Marga Yap Indonesia pimpinan Haryanto Yap, menjadi ajang untuk menggali lebih dalam tentang identitas dan kontribusi suku Hakka bagi Indonesia.

Identitas Ganda dan Arsitektur Khas

Etnis Tionghoa memiliki sistem identitas yang unik, yaitu identitas suku dan identitas marga. Seseorang bisa berasal dari suku Hakka, namun memiliki marga yang sama dengan orang dari suku Hokkian. Dalam setiap pertemuan resmi seperti ini, simbol-simbol kebudayaan selalu ditampilkan dengan khidmat. Setelah lagu Indonesia Raya dikumandangkan, peserta menyanyikan lagu kebangsaan suku Hakka, dilanjutkan dengan mars marga Yap. Tradisi ini memperkuat rasa kekeluargaan di antara anggota komunitas.

Museum Hakka di TMII sendiri adalah replika arsitektur rumah besar tradisional suku Hakka atau yang dikenal sebagai Tulou. Bangunan ini berbentuk melingkar menyerupai benteng dengan tembok setinggi tiga lantai. Desainnya sangat komunal, di mana puluhan rumah tangga tinggal dalam satu atap besar dengan satu pintu gerbang utama. Kamar-kamar menghadap ke halaman dalam yang luas, berfungsi sebagai ruang sosial bersama. Arsitektur ini mencerminkan filosofi kebersamaan dan perlindungan di masa lampau. Di masa lalu, lantai pertama biasa digunakan untuk ternak dan logistik, sementara penghuni tinggal di lantai atas.

Dari Meixian Hingga Panggung Politik Asia

Di kampung halaman suku Hakka di Meixian, Provinsi Guangdong, Tiongkok, bangunan-bangunan semacam ini kini sudah jarang dihuni dan berubah menjadi situs wisata bersejarah. Dari sanalah gelombang migrasi besar-besaran terjadi ke arah Nanyang atau Laut Selatan, yang meliputi Thailand, Malaysia, Singapura, hingga Indonesia. Perjalanan keluar dari kampung halaman melalui pelabuhan sungai Sunkou di Meizhou adalah kenangan pahit yang tersimpan bagi para perantau. Namun, pengorbanan itu membuahkan hasil. Diaspora Hakka ini kemudian melahirkan banyak tokoh besar di Asia Tenggara, seperti Lee Kuan Yew di Singapura, Thaksin Shinawatra di Thailand, hingga Corazon Aquino di Filipina.

Spekulasi Politik dan Hambatan Hukum

Hal ini memicu diskusi menarik mengenai peluang Ahok di kancah politik nasional Indonesia. Mengingat rekam jejak para tokoh Hakka di negara tetangga, tidak sedikit yang membandingkan potensi Ahok dengan Lee Kuan Yew. Namun, saat disinggung mengenai kemungkinan maju sebagai calon presiden, Ahok menyatakan keraguannya. Ia mengaku hak politiknya untuk mencapresan telah hilang karena pernah mengalami tuntutan pidana lima tahun. Aturan ini dinilai cukup aneh karena dasarnya adalah tuntutan jaksa, bukan vonis hakim.

Padahal, untuk pilkada, aturan yang sama sudah dibatalkan melalui uji materi di Mahkamah Konstitusi. Dinamika politik saat ini, di mana ambang batas pencalonan presiden dihapus, membuka peluang partai seperti PDI Perjuangan mengajukan figur di luar kebiasaan. Nama Ahok bahkan sempat dikait-kaitkan dengan kemungkinan duet dengan Mahfud MD. Namun, kendala hukum tersebut masih menjadi penghalang utama bagi sosok yang dikenal tegas ini.

Fakta Rengasdengklok yang Terlupakan

Di luar diskusi politik, seminar ini mengungkap kembali fakta sejarah penting seputar proklamasi kemerdekaan Indonesia. Saat para pemuda tengah mencari sosok untuk memimpin negara pada pertengahan Agustus 1945, Amir Syarifuddin hampir saja menjadi presiden pertama jika saja ia tidak berada di penjara Lowokwaru, Malang. Para pemuda kemudian beralih ke Sutan Sjahrir, namun ia menolak karena menganggap usianya yang belum genap 30 tahun saat itu masih terlalu muda.

Akhirnya, pilihan jatuh pada Soekarno yang dianggap paling mampu menyatukan bangsa. Proses penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok menjadi bagian krusial dari sejarah ini. Di desa yang kala itu sangat miskin itu, para proklamator menginap di rumah yang paling layak. Siapa sangka, pemilik rumah tempat Soekarno dan Hatta bermalam tersebut adalah seorang tokoh dari suku Hakka bernama Rao Jixiang atau yang dalam dialek Hakka dibaca Ngiau Gi Seng. Fakta ini menegaskan bahwa peran etnis Tionghoa, khususnya Hakka, telah teranyam erat dalam jalan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.