{ "title": "Perjalanan ke New York: Mengenang James dan Menikmati Piala Dunia", "excerpt": "Dahlan Iskan berbagi cerita tentang perjalanannya ke New York untuk menghadiri pemakaman 40 hari almarhum James F. Sundah, pencipta lagu \"Lilin-lilin Kecil\", sekaligus menonton Piala Dunia dengan tiket yang ditinggalkan sang sahabat.", "body_html": "

\"Bagaimana mereka bisa tahu?\"

Saya bertanya-tanya dalam hati saat teman saya dari Beijing yang baru bergabung di New York menyebut bahwa pembaca Disway bernama Putu ternyata mengetahui rencana saya menonton pertandingan Piala Dunia menggunakan tiket murah.

\"Tahu soal apa?\" tanya teman saya tersebut dengan penasaran.

Saya tersenyum lebar sambil menunjukkan salah satu komentar di rubrik Disway edisi sebelumnya. Ternyata pembaca kami benar-benar jeli menebak rencana saya.

Teman dari Beijing ini memang salah satu pembaca setia Disway. Meski harus menerjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, dia tetap rutin membaca setiap tulisan saya. Bahkan, dia tidak sendirian. Dia telah menjadi semacam duta Disway di Tiongkok, mengajak jejaringnya untuk membaca tulisan-tulisan saya dengan cara yang sama. \"Untuk benar-benar memahami Indonesia, tidak bisa hanya dari berita biasa,\" ujarnaya berkali-kali.

Komentar \"perusuh\" di Disway yang memang bernada mengejek itu ternyata benar adanya. Saya benar-benar akan menonton Piala Dunia keesokan harinya menggunakan tiket milik James F. Sundah.

James Sundah adalah nama yang mungkin sudah familiar di telinga Anda. Dia adalah pencipta lagu-lagu abadi, termasuk satu lagu yang pasti pernah Anda nyanyikan: Lilin-lilin Kecil. Sang maestro itu meninggal dunia 40 hari yang lalu.

Saya hadir dalam kebaktian peringatan 40 hari kepergiannya di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Emanuel, Queens, New York.

Meski istrinya, Lia, memeluk agama Katolik, James merupakan jemaat setia di gereja tersebut. Mereka memiliki saling menghormati keyakinan masing-masing; Lia sering ikut suaminya beribadah di GKPI, dan James juga tak jarang menemani istrinya misa di gereja Katolik.

\"GKPI di sini merupakan gereja independen,\" jelas Pendeta Rolland Samson. Penjelasan ini sekaligus menjadi koreksi atas asumsi saya saat memberi sambutan di altar. Sebelumnya saya mengira GKPI Queens merupakan bagian dari GKPI yang sinode pusatnya berada di Pematang Siantar.

Sesaat setelah mendarat di bandara JFK, saya langsung menghubungi Lia untuk meminta izin tidak menginap di rumahnya. James sudah tiada, dan Lia kini tinggal sendirian.

\"Saya sudah menyiapkan kamarnya untuk Anda,\" ujar Lia, seorang pianis klasik lulusan sekolah musik di Boston yang kemudian menjadi pengacara di New York. \"Saya bisa tidur di rumah saya yang lain,\" tambahnya.

\"Tidak perlu,\" tolak saya dengan halus. \"Saya sudah memesan kamar hotel di Manhattan,\" kata saya memberi tahu.

Seandainya James masih ada, saya pasti bisa menghemat hingga Rp 50 juta. Hotel di New York sangat mahal, terlebih dengan adanya Piala Dunia dan kurs rupiah yang melemah seperti sekarang ini.

Hotel berbintang empat saja tarifnya mencapai Rp 8 juta per malam. Ditambah sarapan sederhana seharga Rp 2 juta, yang porsinya hanya terdiri dari tiga butir telur rebus, bubur oatmeal, dan satu roti Brooklyn Bagel.

Sebagai ganti penolakan saya untuk menginap di rumahnya, saya meminta agar segera menuju makam James usai menjemput saya di bandara. Sampai dengan peringatan 40 hari ini, setiap hari Lia masih menyempatkan diri mengunjungi makam suaminya. Masih dengan tangis, masih dengan percakapan sepihak seolah James masih ada di sisinya.

Makam tersebut tidak terlalu jauh dari rumah mereka, hanya sekitar 15 menit perjalanan. Ini adalah pemakaman Katolik yang sudah berusia ratusan tahun dengan luas yang sangat mengesankan. Banyak nisan di sana sudah terlihat kuno, dan suasana di dalamnya seolah membawa kita masuk ke dalam adegan pemakaman dalam film