Pikiran saya melayang ke Ekuador saat menyaksikan kemenangan mengejutkan tim nasional negara itu atas raksasa sepak bola Jerman dengan skor 2-1 di Stadion New York New Jersey Kamis pekan lalu.

Negara dengan jumlah penduduk serupa Malaysia ini ternyata memiliki pengalaman pahit yang mirip dengan Indonesia. Ekuador dilanda krisis moneter parah pada 1998—tahun yang sama dengan krisis di Indonesia. Bahkan, krisis moneter ini juga berkomplikasi dengan krisis politik berat yang akhirnya menjatuhkan presiden yang berkuasa. Di Indonesia, Soeharto lengser, di Ekuador, Jamil Mahuad harus turun tahta.

Jalur Berbeda dalam Mengatasi Krisis

Walau memiliki masalah serupa, dua negara ini memilih jalan berbeda dalam mengatasi krisis ekonomi-politik mereka. Indonesia sempat bingung cukup lama: antara mematok nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika atau membiarkannya mengambang bebas. Kebimbangan ini membuat pasar uang pun bingung mengambil sikap.

Indikasi bahwa rupiah akan dipatok (fixed rate) terhadap dolar sangat kuat saat itu. Presiden Soeharto bahkan sudah bertemu ahli ekonomi dunia yang menganjurkan teori tersebut: Steve Hanke dari John Hopkins University, Amerika Serikat.

Namun, langkah ini ditentang oleh IMF. Pemerintah Amerika juga tidak setuju. Banyak ekonom Indonesia sendiri yang menolak ide ini. Soeharto tampak sangat bimbang mengambil keputusan. Mungkin usianya yang sudah lanjut membuatnya kesulitan memilih opsi yang tepat saat itu.

Sebagaimana kita ketahui, Soeharto akhirnya mengikuti saran IMF. Nilai tukar rupiah pun ambruk. Satu dolar Amerika bahkan sempat menembus Rp17.000. Kepanikan pun merebak. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Akhirnya, Soeharto harus lengser dari kekuasaan.

Semangat Ekuador di Lapangan dan Dalam Mengatasi Krisis

Di lapangan, saya melihat seluruh pemain Ekuador bekerja keras menghadapi Jerman yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026. Tim Ekuador tampil dengan semangat lebih tinggi. Mereka sadar berada di bawah kelas lawan.

Hanya tiga pemain Ekuador yang bermain di level Liga Eropa: satu di Chelsea (Inggris), satu di PSG (Prancis), dan satu lagi di Sunderland (Inggris) yang mencetak gol pembuka ke gawang Jerman: Nelson Angulo. Sementara gol kemenangan dicetak oleh Gonzalo Plata yang membela Flamengo.

Keterbatasan kualitas ini berhasil ditutupi Ekuador dengan semangat juang tinggi. Bagi Ekuador, kemenangan ini sangat penting untuk lolos dari krisis.

Semangat serupa ditunjukkan Ekuador dalam mengatasi krisis ekonomi 1998. Presiden Mahuad mengambil keputusan cepat dan penuh risiko saat itu: ia mengganti mata uang Ekuador, sucre, dengan dolar Amerika.

Keputusan ini memicu pro-kontra yang sangat luar biasa. Pendukungnya menganggap langkah ini sebagai solusi rasional untuk menstabilkan ekonomi yang sangat kacau. Para penentangnya hanya mengandalkan alasan nasionalisme dan jati diri bangsa.

Dampak dari Keputusan Kontroversial

Jamil Mahuad dihadang demonstrasi besar-besaran. Ia akhirnya jatuh dari kekuasaan. Mahuad pun ditangkap. Ia dituduh melakukan penyalahgunaan wewenang. Tuduhan terberat adalah: membekukan seluruh tabungan dan deposito masyarakat. Tujuannya baik: mencegah rush (penarikan dana massal) di perbankan. Tidak ada bank yang bisa bertahan jika mengalami rush, apalagi saat itu puluhan bank di Ekuador sudah tutup.

Krisis semakin parah karena Ekuador juga dilanda bencana El Nino. Panen gagal total. Pohon-pohon pisang mengering. Padahal, ekspor pisang adalah tulang punggung perekonomian Ekuador. Negara ini mirip Indonesia: terletak di garis khatulistiwa dengan cuaca, iklim, dan curah hujan yang serupa. Bahkan warna kulit penduduknya pun tidak jauh berbeda.

Hanya saja, sepak bola Ekuador lebih maju.

Warisan Keputusan Mahuad

Presiden Mahuad memang jatuh karena keputusan mengganti mata uang lokal menjadi dolar. Namun, presiden penggantinya yang lebih nasionalis ternyata mempertahankan keputusan Mahuad. Demikian pula dengan presiden-presiden berikutnya. Sampai sekarang. Selama 25 tahun, mata uang Ekuador sama dengan mata uang Amerika Serikat.

Akibatnya, para pemain sepak bola Ekuador tidak perlu bingung dengan kurs mata uang. Mereka tidak kaget seperti saya saat merasakan betapa mahalnya harga di Amerika—karena pendapatan dan pola pikir saya masih dalam rupiah.

Saat ini, pendapatan perkapita Ekuador mencapai USD7.000, sementara Indonesia USD5.000. Kedua negara sama-sama mengalami peningkatan dibanding 25 tahun lalu. Namun, inflasi Ekuador tidak sampai satu persen. Harga-harga lebih stabil. Di Indonesia, inflasi kita sekitar tiga persen.

Nasib Sang Pengambil Keputusan

"Di mana presiden 'dolar' Mahuad sekarang? Apakah masih di penjara?" tanya saya kepada pendukung Ekuador yang duduk di sebelah saya di stadion.

Hari itu, tribun tempat saya duduk dipenuhi pendukung Ekuador. Di antara mereka, hanya ada sedikit pendukung Jerman. Dan hanya ada empat orang yang mendukung Persebaya.

"Siapa? Mahuad? Saya tidak tahu," jawab penonton itu.

Saya perhatikan wajahnya. Ternyata, ia terlalu muda untuk mengetahui peristiwa 25 tahun lalu.

Mahuad memang hanya menjabat selama dua tahun sebagai presiden. Berbeda dengan Soeharto yang berkuasa lebih dari tiga dekade. Banyak orang Indonesia masih mengenal sosok Soeharto—apalagi sering diingatkan melalui tulisan di bak truk: masih lebih enak zaman saya tho?

Saya pun mencari penonton yang lebih tua untuk menanyakan kabar Mahuad.

Ternyata, ia sudah tidak di penjara. Mahuad memang dijatuhi hukuman 12 tahun penjara, tetapi saat vonis itu dibacakan, Mahuad sudah berada di Amerika. Rupanya penguasa baru Ekuador tidak benar-benar ingin memenjarakan Mahuad. Ia sudah berada di Amerika sebelum penangkapan dilakukan. Kasusnya pun disidangkan secara in absentia—tanpa kehadiran terdakwa.

Siapa tahu, Mahuad berada di stadion yang sama saat saya menyaksikan pertandingan Ekuador melawan Jerman itu.

Saya memandang sekeliling stadion: saya tidak menemukannya karena saya memang tidak pernah tahu bagaimana wajahnya.