Di atas Samudra Atlantik, bersama pesawat Airbus A380 Emirates, saya tersadar akan perubahan zaman. Tak lagi terisolasi seperti dulu, kini saya bisa mengirimkan naskah ke redaksi sekalipun masih terbang 10.000 meter di atas permukaan laut. Semua berkat fasilitas WiFi cuma-cuma yang disediakan maskapai ini.
Dulu, internet di pesawat merupakan kemewahan. Tarifnya selangit dan koneksi yang lemot membuat banyak penumpang memilih untuk menahan diri hingga mendarat. Namun, dalam penerbangan 14 jam dari Dubai ke New York kemarin, koneksi cepat dan gratis ini membuat saya lebih sibuk dengan layar gawai ketimbang menikmati perjalanan.
Kehilangan Momen Sunyi
Sebenarnya, penerbangan panjang seperti ini adalah kesempatan langka. Di ruang terbatas yang tidak mungkin kemana-mana, saya biasanya memiliki waktu untuk diam, merenung, atau membiarkan imajinasi berkeliaran tanpa gangguan. Seringkali, saya menggunakan momen ini untuk mengevaluasi diri: apa saja yang salah dalam sikap, kepribadian, maupun keputusan-keputusan yang telah dibuat.
Namun, kali ini, semua itu tidak bisa terlaksana. Jelaslah, WiFi gratis di pesawat memang menyenangkan, tetapi juga mengganggu ritme kontemplasi yang biasa saya lakukan.
Strategi Melawan Jet-Lag
Pesawat berangkat dari Dubai pukul 08.00 pagi. Sebelum naik, saya sudah sarapan besar dengan maksud tertentu: agar bisa langsung tidur setelah duduk di kursi. Bahkan, saya sudah meminta pramugari asal Latvia untuk tidak membangunkan saya saat sarapan pesawat disajikan.
Rencana tidur empat jam ini bukan tanpa alasan. Selain untuk mengganti kurang tidur setelah menonton pertandingan sepak bola antara Jerman dan Pantai Gadio yang dimenangkan Pantai Gading 1-0, ini adalah bagian dari strategi menghadapi jet-lag. Dengan perbedaan waktu 12 jam antara Jakarta dan New York, manajemen waktu tidur menjadi krusial.
"Setelah mendarat nanti bapak istirahat dulu. Saya minta izin sebentar untuk kebaktian," tulis Lia melalui pesan yang saya terima di tengah penerbangan. Lia baru saja ditinggal suaminya, James F. Sundah, pencipta lagu "Lilin-lilin Kecil".
"Saya ikut kebaktian," jawab saya.
"Serius?" tanya Lia kembali.
"Iya. Serius," balas saya mantap.
Keputusan ini saya ambil bukan tanpa pertimbangan. Sengaja memilih untuk tidak istirahat agar tidak terlelap dan mengacaukan penyesuaian waktu. Lebih baik ikut kebaktian sekalian sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum James F. Sundah yang dikenal sebagai pejuang hak cipta lagu Indonesia.
Memang, kantuk di jam 14.00 waktu New York ini harus dilawan karena itu setara dengan jam 02.00 dini hari waktu Jakarta. Jangan sampai, besoknya, di jam yang sama saya justru tertidur saat menonton pertandingan atau di tempat nonton bersama.
Airbus A380 memang menawarkan kenyamanan luar biasa. Pramugari bahkan menawarkan saya untuk mandi sebelum tidur mengingat pesawat komersial terbesar ini dilengkapi beberapa kamar mandi. Tapi karena sudah mandi di bandara, saya langsung memanfaatkan waktu untuk istirahat.
Setelah bangun dari tidur empat jam, saya memotret layar TV di depan kursi yang menunjukkan posisi penerbangan dan perkiraan waktu mendarat. Fotonya saya kirim ke Lia sebagai informasi bahwa saya akan segera tiba.
Di satu sisi, teknologi WiFi gratis ini sangat membantu pekerjaan. Namun, di sisi lain, saya merasa kehilangan momen sunyi yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan jauh. Mungkin, dalam perjalanan selanjutnya, saya harus mempertimbangkan untuk sengaja mematikan koneksi internet demi mendapatkan kembali waktu kontemplasi yang berharga.


