Suatu hari, sebuah komentar di kolom pembaca membuat saya berhenti sejenak. "Jangan bandingkan kereta bawah tanah New York dengan Tiongkok—itu tidak apple to apple."

Komentar sederhana ini membuyarkan pemikiran saya. Saya terlalu lama terpukau oleh kemegahan teknologi Tiongkok tanpa mempertimbangkan konteks historis.

Perbedaan Zaman, Perbedaan Teknologi

Kereta bawah tanah New York pertama kali beroperasi pada 1904. Sementara itu, pembangunan jaringan transportasi bawah tanah di Tiongkok dilakukan ketika teknologi sudah berkembang pesat. Setiap terobosan baru mudah diakses dan diimplementasikan.

Kebisingan dan kesan kuno yang terasa di kereta New York seharusnya tidak mengejutkan. Bayangkan, pada zamannya, warga New York mungkin menertawakan London yang masih menggunakan lokomotif uap bertenaga batu bara untuk sistem kereta bawah tanah mereka.

Namun, justru London yang patut diacungi jempol. Mereka memulai semua ini pada 1860—lebih dari satu setengah abad lalu. Kota ini menjadi perintis sistem kereta bawah tanah pertama di dunia.

Macet Sejak Zaman Dulu

Mungkin ada yang bertanya: mengapa London membutuhkan kereta bawah tanah pada 1860? Bukankah saat itu belum ada mobil dan kemacetan lalu lintas?

Realitanya, London sudah mengalami kemacetan parah pada masa itu. Sebagai kota terbesar dunia dengan populasi lebih dari 3 juta orang, London dipadati oleh dokar dan kereta berkuda. Revolusi industri telah menjadikan kota ini pusat ekonomi global.

Selain kemacetan, masalah lain yang muncul adalah bau tidak sedap dari kotoran kuda yang menumpuk di mana-mana. Solusinya? Sistem transportasi bawah tanah yang menghubungkan berbagai stasiun kereta api.

Evolusi Material dan Arsitektur

Fenomena ini tidak terbatas pada transportasi. Coba berdiri di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, dan pandangi sekeliling Anda. Dilihat dari segi kemegahan gedung pencakar langit, Jakarta terlihat lebih modern ketimbang New York.

Mengapa? Karena gedung-gedung di Jakarta dibangun ketika ilmu arsitektur dan material sudah sangat maju. Sementara itu, pada masa pembangunan gedung-gedung tua di New York, ahli teknik sipil lebih dominan daripada arsitek. Prioritasnya adalah kekuatan dan keamanan, bukan keindahan.

"Kokoh" seringkali menjadi lebih penting daripada "indah" pada masa itu. Namun, perkembangan ilmu material dan kimia telah mengubah segalanya. Sekarang, arsitek bisa memilih berbagai material yang tipis tapi kuat, lentur tapi tidak mudah patah—sesuatu yang mustahil di masa lalu.

"Arsitek di zaman ini sangat dimanjakan oleh ketersediaan material yang sangat beraneka ragam."

Tantangan Modernisasi Infrastruktur Lama

Saya membayangkan betapa mahalnya jika New York harus mengganti seluruh jaringan kereta bawah tanah mereka yang kuno dengan sistem serba digital seperti di Tiongkok. Dengan panjang jaringan mencapai 400 km atau sekitar 1000 km rel, perombakan semacam itu bukan hanya mahal, tetapi juga sangat memakan waktu.

Situasi ini mengingatkan saya pada era persaingan media cetak dulu. Jawa Pos adalah surat kabar pertama di Indonesia yang mempublikasikan foto berwarna. Sementara itu, Kompas bertahan dengan format hitam putih, yang dianggap lebih elegan dan bermutu.

Salah satu argumen Kompas saat itu: "New York Times saja tetap hitam putih." Memang, sebagai surat kabar paling bergengsi di dunia, NYT bertahan dengan format hitam putih untuk waktu yang lama.

Mengubah Sistem yang Sudah Mapan

Penasaran, saya terbang ke New York untuk mencari tahu alasan di balik keputusan NYT. Saya mendapatkan jawabannya: infrastruktur percetakan mereka begitu besar dan kompleks. Mengubahnya menjadi sistem berwarna membutuhkan investasi sangat besar, mulai dari pembelian mesin baru hingga mungkin membangun gedung baru karena gedung lama sudah penuh dengan mesin hitam putih.

Lima tahun kemudian, NYT akhirnya terbit dalam warna. Demikian pula dengan Kompas. Saya tersenyum dengan "kemenangan" ini, meski pada akhirnya, kemenangan itu kehilangan maknanya seiring perkembangan zaman.

Kini, saya kembali membayangkan betapa beratnya mengubah sistem kereta bawah tanah New York menjadi serba digital. Dan jika di New York saja sesulit itu, bagaimana dengan tantangan yang akan dihadapi Indonesia dalam membangun dan mengembangkan sistem transportasi massalnya?