Perjalanan ke stadion di New Jersey sengaja saya tunda setengah jam. Ada janji temu yang tak bisa saya lewatkan. Tamu istimewa ini terbang jauh dari Dallas hanya untuk bertemu. Kebersamaan kami semakin spesial karena ia menginap di hotel tak jauh dari Times Square, sama seperti saya.
Kedatangannya membawa kehangatan tersendiri. "Saya juga menonton Piala Dunia menggunakan tiket tidak resmi," ujarnya seolah memahami kondisi saya yang kerap diejek karena memiliki tiket lungsuran.
"Dulu saat kuliah di ITB, saya pernah mengundang Anda untuk berbicara di Sabuga," kenangnya sembari menunjukkan foto lawas saat kami berada di atas panggung bersama. Bagi yang belum tahu, Sabuga adalah convention hall terbaik di Bandung.
Renard Widarto, sosok yang dulu dikenal sebagai aktivis mahasiswa ITB kini telah berganti profesi menjadi pengusaha. Lulusan Teknik Sipil ini meraih doktor bidang keuangan dari Universitas Diponegoro.
Meski sama-sama menggunakan tiket lungsuran, Renard lebih beruntung karena mendapat dua tiket. Ia bisa menonton pertandingan bersama istri di Dallas, Texas. Lebih istimewa lagi, ia tahu persis harga tiket tersebut: USD6.000 per lembar. Artinya, ia menghabiskan hampir Rp 200 juta untuk berdua, belum termasuk tiket pesawat dan hotel yang saat ini harganya sangat tinggi.
"Mari kita bertemu di depan HEYTEA di Times Square," usul saya. "Pukul 11.00," tambah saya menentukan waktu.
Perjalanan kaki menuju lokasi ternyata lebih cepat dibandingkan waktu yang saya habiskan untuk turun dari lift. Saya harus turun ke lantai 10 terlebih dahulu. Lobi hotel berada satu tingkat di atas lantai 9, atau enam tingkat di atas lantai 4. Dari lantai 10, saya berganti lift menuju lantai dasar. Meski harus melewati dua traffic light, tapi kebetulan semuanya sedang hijau.
Tentu saja saya sudah lupa bagaimana rupanya, namun di tengah hiruk pikuk Times Square, ia adalah satu-satunya orang dengan wajah khas Indonesia. Itulah Renard. Ia sudah duduk manis di kursi merah di bawah payung besar. Saya segera mengenali lokasi itu karena sering membeli HEYTEA di Beijing dibandingkan minuman bubble lainnya.
"Mau minum apa?" tanya Renard menyapa.
"Saya baru saja sarapan Brooklyn Bagel," jawab saya.
Kami pun terlibat percakapan tanpa minuman apa pun. Kisah di balik tiket lungsurannya ternyata sangat menarik. Cerita ini bisa menjadi bahan tulisan di Disway sekaligus memberi waktu bagi para penebak untuk mengelus bola kristal mereka.
Agar tidak terputus, saya mengajak Renard kembali ke hotel. Kami bisa melanjutkan percakapan sambil berjalan.
Saya tahu beberapa menit lagi mobil Lia akan tiba. Saya harus siap di pinggir jalan tepat di depan hotel. Itulah etika menjadi tamu di kota-kota besar seperti New York, Tokyo, atau Singapura.
Jangan sampai mobil penjemput sudah datang, sementara yang dijemput masih di kamar mandi. Mobil tidak bisa berhenti lama di depan hotel karena tidak ada tempat parkir. Penjemput juga tidak bisa meninggalkan mobil untuk mencari tamu karena akan bermasalah dengan parkir.
p>Lia datang bersama anaknya, Erick. Pria berusia 28 tahun yang masih lajang ini menyukai persahabatan melalui komputernya. Erick yang menyetir mobil, sementara Lia turun sebentar untuk menyapa Renard sebelum kembali ke mobil sebagai co-pilot. Saya duduk di kursi belakang. p>Setelah 15 tahun tidak bertemu, banyak hal berubah pada Renard, namun beberapa tetap sama. Ia bukan lagi aktivis mahasiswa yang kurus, namun pemikirannya tetap kritis. "Saya terus mengingatkan teman-teman alumni SMA Taruna Nusantara," ucap Renard. "Kini alumni Taruna Nusantara sedang diuji sejarah, apakah mereka mampu menerapkan doktrin cinta tanah air seperti yang diikrarkan saat di sekolah." p>Sebagaimana diketahui, banyak alumni sekolah yang didirikan Prabowo Subianto tersebut yang kini menduduki posisi penting di pemerintahan. Mereka adalah kakak-kakak kelas Renard. Misalnya, Letkol Teddy yang menjabat seskab adalah kakak satu angkatannya. Di angkatan Renard sendiri, ada tiga siswa keturunan Tionghoa, salah satunya adalah dirinya. p>Kami berpisah di teras Edition. Meski keberangkatan kami terlambat 45 menit, hal itu masih dapat diterima. Lia telah mendapatkan "kapling" parkir. Ia telah membayar tempat parkir sejak enam bulan lalu: 200 dolar atau hampir Rp 4 juta untuk satu mobil. p>Lapangan parkir di stadion memang tidak diperuntukkan bagi mobil. Area luas itu dialokasikan untuk mengatur arus manusia menuju dan dari stadion yang berkapasitas 82.000 orang. Juga digunakan untuk berbagai atraksi tambahan sebagai daya tarik Piala Dunia. p>Hanya 25 menit diperlukan untuk perjalanan dari Times Square ke stadion. Kami masuk ke gedung parkir mal American Dream, mal terbesar kedua di Amerika setelah Mall of America yang pernah saya kunjungi beberapa tahun lalu di Minneapolis. p>Tentu saja kami harus berjalan cukup jauh menuju stadion. Itu hal yang biasa. Tampak lautan warna kuning tua mendominasi. Bendera Ekuador dan Jerman sama-sama memiliki unsur kuning tua: kombinasi kuning-biru-merah dan hitam-merah-kuning. Orang Jerman menyebutnya: hitam-merah-emas. p>Di tengah lautan kuning tersebut, terlihat tujuh orang mengenakan kaos hijau. Kami awalnya mengira mereka adalah Bonek Persebaya. Ternyata, mereka justru menduga kami adalah suporter El Tri, julukan untuk suporter Meksiko. p>Julukan El Tri diambil dari triwarna bendera Meksiko: hijau-putih-merah. p>Karena sama-sama mengenakan hijau, kami pun berfoto bersama. Kami juga mengajari mereka meneriakkan "Wani!" p>Selanjutnya, mereka mengajari saya untuk berteriak: "Vamoz El Tri!"


