Memilih untuk berjalan kaki menuju Kanada, saya tergerak oleh satu alasan: ingin menyaksikan air terjun Niagara dari sudut paling sempurna. Yakni dari atas jembatan penghubung antara dua negara: dari kota Niagara di sisi Amerika menuju kota Niagara di sisi Kanada.
\n\nDengan berjalan kaki, kami bisa berhenti sesuka hati di atas jembatan itu. Tidak ada larangan untuk beristirahat sejenak di pinggirnya, bahkan di bagian tengah sekalipun.
\n\nLebar jembatan ini cukup memadai, dapat menampung lima orang berjalan berdampingan. Terlebih sore itu kondisinya cukup sepi. Pengunjung yang melintas bisa dihitung dengan jari, baik yang menuju Kanada maupun sebaliknya.
\n\nKami, terutama Jannet yang datang dari Beijing, berhenti hampir setiap lima langkah. Kami mengabadikan momen dengan air terjun Niagara sebagai latar belakang. Seorang wanita paruh baya yang datang dari arah Kanada menawarkan bantuan untuk memotret kami. Jannet pun menyerahkan ponselnya kepada wanita tersebut.
\n\n"Kami dari Indonesia. Anda dari mana?"\n\n
"Saya Amerika. Dari Chicago," jawabnya.\n\n
Saya pun menawarkan balik untuk memotret wanita itu bersama suaminya, tetapi ia menolak. Saya tahu bahwa orang Amerika pada umumnya kurang menyukai difoto. Pemahaman ini saya dapatkan dari John Mohn, orang tua angkat saya saat sekolah menengah di Ellinwood, Kansas.
\n\nKenangan Masa Lalu di Niagara
\n\nSaya pernah mengunjungi Niagara bersama John Mohn sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat itu kami hanya berdua dan singgah sebentar. Kami tengah dalam perjalanan darat dari Kansas menuju Boston untuk menghadiri rapat tentang nuklir di MIT bersama tim dari universitas ternama tersebut. Kami juga menyempatkan diri melihat reaktor nuklir untuk riset di kawasan kampus itu.
\n\nSepanjang perjalanan tiga hari itu, kami bergantian mengemudikan mobil—John sekitar 70 persen waktunya. Usianya sepuluh tahun lebih tua dari saya. Kini John telah berusia 86 tahun dan masih sehat—ia pindah ke Lawrence yang masih di wilayah Kansas.
\n\nJohn-lah yang menyarankan agar Ayrton, keponakan saya, kuliah di Kansas University—alma mater John. Rumah John kini dekat dengan kampus tersebut. Maka Ayrton pun mengikuti tes dan diterima dengan nilai yang baik, bahkan mendapatkan beasiswa dari KU. Bulan depan ia akan berangkat ke sana.
\n\nMemang, rute dari Kansas ke Boston melewati Niagara. Sayang rasanya jika tidak singgah. Akhirnya kami bisa menikmati Niagara selama setengah jam saja.
\n\nSaat itu saya meminta John memotret saya dengan latar belakang air terjun yang megah itu. Lalu saya menawarkan untuk memotret balik, tetapi ia menolak. Ia lebih memilih untuk memotret objek-objek di sekitar.
\n\nPerbedaan Budaya Mengabadikan Momen
\n\nDari pengalaman di Niagara, saya menyimpulkan bahwa orang Amerika kurang suka berfoto diri. Saya pun mengamati sekitar dan ternyata benar. Yang banyak berfotografi adalah orang-orang dari Asia.
\n\nKali ini, dari atas jembatan Niagara, saya hanya bisa mengirim pesan kepada seorang profesor ekonomi asal Surabaya yang mengajar di Cornell University. Anda pasti tahu namanya: Iwan Jaya Azis—putra pertama pemilik harian Surabaya Post. Hingga kini Mas Iwan masih berkarya di Cornell. Sayangnya, kami tidak bisa singgah karena keterbatasan waktu.
\n\nKendala dengan Mobil Sewaan
\n\nSebenarnya, menyeberang ke Kanada bisa menggunakan mobil. Jembatan untuk kendaraan terletak di bagian tengah, bersebelahan dengan jalur pejalan kaki.
\n\nNamun, mobil yang saya sewa sejak dari New York ini tidak diizinkan menyeberang ke Kanada. Mungkin karena tipe mobilnya atau mungkin karena statusnya sebagai mobil sewaan. Anda boleh mencoba menanyakan alasannya ke ChatGPT.
\n\nAkhirnya, setelah bermalam satu malam di Buffalo, saya harus mengembalikan mobil sewaan tersebut terlebih dahulu. Saya dapat mengembalikannya di kantor cabang terdekat dari Buffalo: di bandara internasional Niagara.
\n\nLokasi penyewaan mobil memang selalu dekat dengan bandara—wisatawan yang baru turun dari pesawat bisa langsung menyewa, dan mereka yang akan naik pesawat bisa mengembalikan kendaraan dengan mudah.
\n\nMasalahnya, saya tidak akan naik pesawat. Saya akan berjalan kaki menyeberang ke Kanada. Bandara tersebut berjarak 25 km dari pos penyeberangan. Tidak ada pilihan lain selain mengembalikan mobil lebih dulu. Tetapi ternyata sudah terlalu sore, kantor penyewaan sudah tutup.
\n\nNamun, di Amerika, hal seperti ini bukan masalah besar. Saya hanya perlu memarkir mobil di tempat yang disediakan meski tidak ada petugas di sana, lalu melempar kunci mobil ke dalam kotak pengembalian kunci—dilemparkan perlahan karena lubangnya sangat kecil.
\n\nKemudian kami naik Uber menuju jembatan penyeberangan dengan tarif 49 dolar AS—yang setara dengan hampir satu juta rupiah saat ini.
\n\nProsedur Sederhana Keluar dari Amerika
\n\nSaat tiba kembali di dekat jembatan, saya kira kami harus melalui imigrasi Amerika terlebih dahulu untuk menandai bahwa kami keluar dari negeri itu—paspor diperiksa dan distempel.
\n\nTernyata tidak. Kami meninggalkan sisi Amerika dengan sangat mudah. Tanpa melalui pemeriksaan apapun. Hanya melewati dua pintu putar yang tidak dijaga. Juga tidak terlihat satupun petugas yang mengawasi.
\n\nBegitulah Amerika. Masuk ke negeri itu memerlukan prosedur yang ketat, tetapi keluarnya semudah melambaikan tangan—itu pun jika Anda mau melakukannya.
", "category_slug": "umum" }


