'Mesir telah dirampok.' Demikian seruan Zohran Mamdani, sang Wali Kota New York, yang sontak menjadi sorotan publik. Tak hanya di Amerika, pernyataan ini khususnya menggelora di Indonesia, di mana Mamdani dikenal sebagai sosok yang berani menyuarakan kebenaran.
Sang Pemberani
Di tengah gemerlap politik Amerika, Mamdani tampil berbeda. Ia tak gentar melawan Presiden Donald Trump, bahkan berhasil menundukannya hingga diundang ke Gedung Putih. Lebih dari itu, Mamdani berani menentang 'penguasa keuangan' dunia: komunitas Yahudi New York.
Dengan lantang, ia mematahkan mitos bahwa tanpa dukungan Yahudi, seseorang tak mungkin terpilih sebagai pemimpin di Amerika. Semasa kampanye wali kota, di tengah situasi sensitif, Mamdani justru menyuarakan dukungan untuk Palestina apa adanya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi target kritik terberatnya. 'Netanyahu adalah penjahat perang,' ucap Mamdani tanpa ragu, meski Netanyahu merupakan mitra utama Trump dalam politik keamanan Timur Tengah.
Pengalaman di Negeri Paman Sam
Suatu ketika, saat pemilu legislatif berlangsung di New York, saya sempat menyaksikan proses demokrasi di salah satu tempat pemungutan suara dekat Times Square. Warga antre memberikan suaranya.
'Tidak boleh memotret,' tegur seorang petugas. Namun, sebelum dilarang, beberapa kali saya berhasil mengabadikan momen tersebut. Menariknya, di negara yang kerap menyombongkan diri sebagai juara demokrasi, aktivitas memotret di TPS dilarang.
Saya menyampaikan keheranan ini pada salah satu petugas, yang ternyata setuju dengan pandangan saya. Ia mencoba berdiskusi dengan rekan kerjanya, namun larangan tetap ditegakkan. Petugas yang sependapat itu hanya bisa mengangkat bahu kecewa.
Dalam hati saya tersenyum. Untungnya, beberapa foto sudah berhasil saya dapatkan.
Tragedi di Lapangan Hijau
Kembali pada pernyataan 'Mesir telah dirampok.' Frasa ini merupakan kritik paling keras atas kekalahan Mesir dari Argentina di Piala Dunia. Pertandingan berlangsung di stadion Atlanta yang dilengkapi atap bisa dibuka tutup dan sistem pendingin ruangan, namun suhu emosi di seluruh dunia tetap memanas.
Sejarah sepak bola pernah mencatat insiden serupa saat 'gol tangan Tuhan' Maradona membawa Argentina juara dunia 1986. Ketika itu, teknologi Video Assistant Referee (VAR) belum ada. Keputusan sepenuhnya menjadi otoritas wasit, yang mungkin tak melihat kejadian tersebut dari posisinya.
Namun, pada kekalahan Mesir kali ini, wasit memiliki hak meninjau kembali insiden melalui VAR. Apalagi ini pertandingan babak menjelang puncak turnamen yang sangat sensitif. Anehnya, wasit justru memilih mengabaikan VAR. Mengapa demi menjaga marwah Piala Dunia, hal itu dilakukan?
'Mesir telah dirampok.'
Pidato dan Dampaknya
Mamdani mengucapkan kalimat kontroversial itu saat meresmikan perluasan layanan bus kota. 'Dengan rute baru ini, warga New York bisa memiliki lebih banyak waktu. Termasuk untuk membicarakan bagaimana Mesir telah dirampok,' ujarnya.
Bagian kecil dari pidato itu langsung menyebar ke seluruh penjuru dunia. Mamdani memang penggemar sepak bola. Ia pernah menonton langsung Piala Dunia di Afrika Selatan, dan masih bisa menyanyikan lagu 'Waka Waka' yang populer saat itu.
Saat promosi Piala Dunia yang finalnya digelar di stadion New York New Jersey, Mamdani kembali menyanyikan lagu tersebut. Bisa jadi, ia akan menolak menonton langsung di stadion jika yang lolos ke final adalah Argentina.
Latar Belakang Mamdani
Mamdani lahir di Kampala, ibu kota Uganda. Ayahnya diasingkan ke sana. Keluarga Mamdani menganut Islam aliran Syiah. Di Kampala, mereka kembali diusir dan memilih mengungsi ke Afrika Selatan, sebelum akhirnya berimigrasi ke Amerika.
Dukungan Luas
Jika ada jajak pendapat di New York, pernyataan 'Mesir telah dirampok' kemungkinan besar akan mendapat dukungan luas. Mamdani bagaikan memiliki pengaruh magis. Bahkan serangannya kepada Netanyahu ternyata 'laku' di pasaran.
Bukan hanya di kalangan pendukung Palestina, tetapi juga di komunitas Yahudi New York sendiri. Sebuah jajak pendapat pekan lalu menunjukkan hasil menarik: 30 persen warga Yahudi setuju dengan pendapat Mamdani, sementara 20 persen tidak setuju. Selebihnya menyatakan tidak memiliki cukup pengetahuan untuk memberi penilaian.
Dukungan untuk Mamdani ternyata merata di berbagai kalangan.
Realisasi Program
Selama di New York, saya menghabiskan satu hari penuh untuk mengamati karya Mamdani. Saya mencoba bus kota New York yang semula direncanakan gratis. Di dalam bus terdapat promosi stiker Piala Dunia dengan bentuk bola menyerupai apel—sesuai julukan New York sebagai 'Big Apple'. Namun, program gratis bus itu hanya bertahan enam bulan sebelum kembali menjadi berbayar.
Saya mengunjungi taman-taman yang dijanjikan akan direvitalisasi, namun belum ada perubahan signifikan. Saya juga melewati bangunan di bawah jalan layang yang direncanakan menjadi toko grosir murah bagi warga miskin. Proyek ini juga belum dimulai, bangunan tersebut tetap tampak kusam.
Namun, semua ini tidak menurunkan citra Mamdani di mata publik. Warga memahami bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah New York terbatas. Berita beredar bahwa wali kota sebelumnya telah meninggalkan terlalu banyak utang yang membebani keuangan kota.
'Mesir telah dirampok.'



