Dari Amerika dan Kanada, saya sengaja tidak melanjutkan perjalanan ke Meksiko. Setidaknya dengan begitu, tidak semua prediksi tentang "perusuh" di kolom tulisan saya menjadi kenyataan.
Kejutan Kanada yang Berakhir di Houston
Piala Dunia Amerika-Kanada-Meksiko memang belum usai, tapi bagi pendukung Kanada, perayaan sudah terasa berakhir. Tim nasional mereka harus pulang lebih awal setelah takluk 0-3 dari Maroko di stadion Houston, Texas. Harapan untuk terus menciptakan kejutan pun buyar, meski sekadar mencapai babak 16 besar sebenarnya sudah merupakan pencapaian luar biasa.
Salah satu alasan di balik kekalahan ini adalah cederanya pemain andalan, Alphonso Davies. Bek kiri yang menjadi andalan itu terpaksa menonton dari bangku cadangan dengan dua kruk di sampingnya. Menariknya, ia meletakkan alat bantu itu di rumput stadion saat berusaha menghibur rekan setimnya yang baru mengalami kekalahan.
Davies mengalami cedera saat masih membela klubnya, Bayern Munich, di Jerman. Meski sempat bermain 32 menit saat Kanada mengalahkan Afrika Selatan, kondisinya tidak membaik. Pagi sebelum laga melawan Maroko, pemain itu menjalani MRI yang tidak menemukan cedera baru, tapi ia merasa tidak akan mampu bermain maksimal.
Davies dalam kondisi prima mungkin saja mengubah hasil pertandingan. Tapi itulah sepak bola—kadang tak bisa diprediksi.
Prestasi Mengejutkan yang Diapresiasi
Bagaimanapun, pencapaian Kanada sebagai pendatang baru yang tersingkir di babak yang sama dengan Brasil tetap layak diacungi jempol.
Stasiun televisi Kanada membahas kekalahan itu secara mendalam, tapi yang lebih menonjol adalah apresiasi mereka terhadap perjalanan timnas hingga babak 16 besar. "Keberhasilan ini akan mengubah sejarah sepak bola Kanada," ujar seorang komentator televisi di sana.
Prediksi ini mungkin tidak berlebihan. Di Amerika, Piala Dunia 1994 membawa perubahan signifikan pada perkembangan sepak bola. Lihatlah penampilan timnas Amerika saat ini—umpan-umpan pendek mereka yang menakjubkan dan gerakan kaki yang cerdas menjadi buktinya.
Dua kali Piala Dunia di benua Amerika jelas telah membawa kemajuan besar untuk sepak bola di belahan utara benua itu. Siapa sangka, sepak bola perlahan menjadi olahraga favorit mereka—meski masih dalam tahap awal.
Kenyataan di Lapangan dan Sport Bar
Suatu sore, saya memutuskan menonton pertandingan Brasil-Norwegia di tempat favorit: sebuah sport bar. Meski pukul 20.00, matahari di Quebec City masih bersinar terang. Enam layar televisi besar di sana menyiarkan pertandingan sepak bola, kecuali satu yang menampilkan baseball.
Namun, semua pengunjung bar itu lebih memilih menyaksikan baseball. Hanya kami sekelompok kecil yang menikmati siaran sepak bola. Jelas dibutuhkan waktu bagi sepak bola untuk benar-benar menjadi olahraga populer di sini. Mungkin setelah Piala Dunia usai, perlahan minat itu akan tumbuh.
Pelajaran bagi Indonesia
Indonesia pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia meski hanya untuk kelompok umia—tiga tahun lalu untuk kategori U-23. Jika ditanya apakah ada kemajuan signifikan dalam sepak bola kita sejak itu? Anda tentu bisa menjawab dengan lebih baik.
Kita sudah memiliki banyak penggemar sepak bola—tinggal bagaimana menjadi seperti Cape Verde atau Pantai Gading yang nyaris mengalahkan Argentina.
Dua tahun lalu, saya hampir mengajak banyak pihak mendeklarasikan bahwa sekolah sepak bola (SSB) juga merupakan lembaga pendidikan yang layak mendapat bagian dari dana pendidikan 20 persen dari APBN. Melalui SSB, pembinaan jangka panjang bisa dimulai. Setiap SSB wajib mencari 22 anak berusia 8, 10, dan 12 tahun sebagai siswa unggulan—semacam Taruna Nusantara-nya sepak bola. Mereka diberi makan bergizi, pelatihan ilmiah, serta kompetisi reguler antar-SSB unggulan setiap tiga bulan.
Namun, saat ide tersebut masih dalam perencanaan, program MBG (Makan Bergizi Gratis) muncul. Saya memutuskan untuk mengurungkan niat itu karena APBN sudah terserot banyak untuk program tersebut. Tidak sepatutnya dana pendidikan juga dialihkan untuk SSB.
Akibatnya, setiap Piala Dunia bergulir, pertanyaan yang sama akan muncul: kapan Indonesia dengan populasi hampir 300 juta jiwa bisa seperti Cape Verde yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit?
Setidaknya kita masih punya "kambing hitam" yang lebih hitam: Tiongkok dengan 1,3 miliar penduduknya pun belum berhasil lolos ke Piala Dunia.



