Banyak orang yang terkejut ketika mengetahui bahwa Renard Widarto adalah orang Tionghoa. Saya pun demikian. Bahkan teman-temannya di Shanghai juga tidak menyangka. Apalagi ketika ia bercerita tentang pendidikannya: SMA Taruna Nusantara dan Institut Teknologi Bandung. Aktivis mahasiswa yang kental dengan kegiatan sosialnya.

Renard sendiri sudah tidak lagi membedakan suku, merasa dirinya hanya orang Indonesia. Ia tidak bisa berbicara Mandarin, matanya tidak sipit, bahasa Jawanya sangat kental, dan kulitnya mendekati cokelat.

Ciri Fisik yang Menipu

Ciri-ciri yang dimiliki Renard memang berbeda dengan kebanyakan orang Tionghoa yang saya kenal. Sejak usia mudanya, penampilannya sudah seperti itu. Tidak heran jika sejak saya mengenalnya sebagai mahasiswa ITB sampai ia meraih gelar doktor, saya selalu mengira ia adalah orang Jawa Semarang. Apalagi ia lahir, menjalani pendidikan SD dan SMP di Semarang. Setelah lulus dari ITB jurusan Teknik Sipil, ia pun kembali ke Semarang untuk melanjutkan studi S-2 dan S-3 di bidang ekonomi di Universitas Diponegoro.

Bisnis kontraktornya juga dimulai dari Semarang sebelum akhirnya berkembang hingga ke Jakarta.

Keberuntungan Ganda

Satunya hal yang sangat Tionghoa dari Renard adalah peruntungannya. Ia percaya perjalanan hidupnya dipenuhi keberuntungan. Termasuk ketika ia mendapatkan tiket murah senilai USD6.000 per lembar (total USD12.000 untuk dua tiket) untuk menonton Piala Dunia bersama istrinya. Menurut saya, ini bukan lagi sekadar keberuntungan biasa, melainkan hoki yang luar biasa.

"Keberuntungan di atas hoki" dalam budaya Tionghoa disebut 双喜 atau kebahagiaan ganda.

Hoki pertama: secara tidak sengaja Renard menemukan asal-usul leluhurnya.

Hoki kedua: ia dipertemukan dengan keluarga leluhur yang kebetulan memiliki dua tiket kelas istimewa untuk Piala Dunia, namun akhirnya membatalkan keberangkatan ke Amerika.

Begitu bahagianya keluarga ini menemukan sanak saudara yang terpisah di Indonesia, tiket pun diberikan kepada Renard.

"Ternyata asal usul nenek moyang saya dari satu desa kecil di Yantai," ujar Renard ketika kami bertemu di Times Square, jantung kota New York. Saat itu ia baru tiba dari Dallas setelah menonton pertandingan Piala Dunia di kota terbesar Texas tersebut.

Mimpi Sejak Kecil

Di Texas, Renard mendapatkan keberuntungan lain: tim yang bertanding adalah Argentina.

Anda tentu tahu siapa lawan Argentina hari itu dan bagaimana hasil akhirnya. Ternyata, sejak kecil Renard memiliki mimpi: suatu saat bisa menonton pertandingan Argentina secara langsung. Mimpi ini muncul ketika ia masih di kelas 6 SD, tepatnya pada tahun 2002 atau 24 tahun yang lalu.

Sang ibu memang sangat ketat dalam mengontrol waktu belajar Renard. Ketika Renard pamit untuk belajar dan mengunci pintu kamarnya, ibunya mengira ia sedang membaca buku. Padahal, sebenarnya Renard sedang menonton Piala Dunia. Saat itu yang sedang bertanding adalah Argentina. Renard begitu asyik dan konsentrasinya penuh pada sepak bola. Ketika Argentina mencetak gol, Renard lupa menjaga rahasia: ia berteriak histeris.

Akhirnya, rahasia persembunyiannya terbongkar. Ibunya segera menggedor pintu: Renard tertangkap basah. Sang ibu marah besar. Kemarahan itu sampai membuahkan dendam: dendam pada Argentina. Dendam ini baru terbayar lunas pada tahun 2026.

Perjalanan Penuh Rintangan

"Hampir saja saya tidak sempat menontonnya," ujar Renard.

Dari Indonesia, ia terbang ke New York terlebih dahulu untuk sekalian berkeliling kota tersebut. Sehari sebelum pertandingan, barulah ia berangkat ke Dallas. Pesawatnya harus transit di Washington DC.

Rute ini sebenarnya agak aneh. Mengapa tidak melalui New York–Atlanta–Dallas atau New York–Chicago–Dallas. Mungkin rute tersebut satu-satunya yang tersedia mengingat jalur ke Dallas padat oleh penonton Piala Dunia.

Di Washington, pesawatnya mengalami keterlambatan selama enam jam. Menurut perhitungan Renard, ini masih bisa ditolerir. Tengah malam nanti ia seharusnya sudah mendarat di Dallas. Namun, setelah enam jam berlalu, belum ada kepastian kapan pesawat akan berangkat. Jika ditunda sampai besok pagi, harapannya punah. Pertandingan dimulai pukul 12.00 siang.

Renard memang orang yang sangat beruntung: setelah tertunda sembilan jam, pesawatnya akhirnya berangkat. Ia tiba di hotel di Dallas pukul 02.00 dini hari. Yang penting, paginya ia bisa sampai ke stadion.

Tentu Renard lebih beruntung daripada saya: stadion di Dallas adalah stadion tertutup. Atapnya bisa ditutup rapat dan dilengkapi dengan AC. Jika tidak, pertandingan pukul 12.00 di musim panas di Texas akan menjadi neraka di bagian selatan Amerika. Oleh karena itu, stadion di Dallas menggunakan AC. Sama seperti di kota besar Texas lainnya, Houston juga menggunakan sistem yang sama.

Di negara bagian Georgia, yang memiliki iklim serupa dengan Texas, juga menggunakan AC: Atlanta. Hanya tiga stadion itu yang dilengkapi AC di Piala Dunia Amerika.

Pertemuan Tak Terduga

Dari Amerika, Renard melaporkan perjalanannya ke Dallas kepada pemilik asli tiketnya: orang Shanghai. Mereka kini menjalin hubungan akrab. Tidak hanya antara Renard dan orang tersebut, tetapi juga antara seluruh keluarga Renard dan keluarga orang Shanghai itu. Mereka ternyata memiliki ikatan darah. Keduanya berasal dari satu desa kecil di Yantai.

Yantai terletak di bagian paling utara provinsi Shandong. Jarang orang dari Shandong melakukan perjalanan xia nan-yang hingga ke Nusantara. Kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia berasal dari provinsi Fujian atau Guangdong.

Namun, pada zaman yang lebih awal, hubungan antara Shandong dan Nusantara mungkin sudah terjalin lebih dulu. Di Shandong-lah Kong Hu-cu mengajarkan pemikiran-pemikiran bijaknya. Dekat dengan padepokan Kong Hu-cu terdapat sebuah desa bernama 泗水. Ejaan maupun pelafalannya sama dengan 泗水 yang kita kenal sekarang ini. 泗水 adalah nama Surabaya dalam bahasa Mandarin.

Kisah di Balik Pertemuan

Tiga bulan sebelum keberuntungan itu terjadi, Renard pergi ke Shanghai untuk mengunjungi pameran dagang. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan ke Suzhou untuk meninjau beberapa pabrik. Peninjauan seperti ini biasanya diakhiri dengan makan siang atau makan malam. Pembicaraan bisnis pun sering dilanjutkan di meja makan, termasuk pembicaraan tentang berbagai hal lainnya.

Di meja makan itu, hadir seorang pengusaha yang pabriknya tidak ditinjau Renard karena tidak ada kaitan dengan bisnisnya. Mereka pun berkenalan dan berbincang-bincang. Hingga akhirnya, sang pengusaha bertanya dari mana asal-usul Renard. Mereka terkejut ketika mengetahui bahwa Renard adalah orang Tionghoa, apalagi ketika ia bercerita bahwa ia memiliki keluarga di Yantai. Renard mengaku tidak tahu di mana letak Yantai dan tidak tahu apa-apa mengenai hubungan keluarga mereka.

"Saya juga dari Yantai," ujar pemilik pabrik yang tidak ada hubungan bisnis dengan Renard tersebut.

Pembicaraan pun beralih dari bisnis ke asal-usul keluarga. Waktu yang tersisa tidak cukup. Untuk memperdalam pencarian itu, Renard diminta datang ke Shanghai ke kantor pengusaha tersebut. Renard pun mengundurkan jadwal kepulangannya ke Semarang.

Di Shanghai, semuanya terungkap. Mereka berdua masih satu keluarga. Diceritakan bahwa sudah tidak banyak lagi yang tinggal di desa kecil itu. Banyak yang sudah merantau, termasuk sang pengusaha yang sukses di Shanghai.

Ketika mendengar Renard akan ke Amerika, sang pengusaha pun memberikan tiket nonton sepak bola tersebut.

Warisan Leluhur

Renard sendiri merasa bahwa keberuntungan demi keberuntungan itu terjadi karena kebaikan budi leluhur mereka. Keluarganya di Shanghai pun berpendapat serupa: "Leluhur kita di Yantai adalah orang yang dicintai rakyat berkat kepedulian pada nasib rakyat jelata di sana."

Kata-kata itu terus terngiang di pikiran Renard. Ia merasa telah mengambil jalan yang benar ketika memilih menjadi aktivis sejak masa mudanya.

Belum lama ini, Renard menulis artikel khusus untuk mengingatkan sesama alumni SMA Taruna Nusantara: "Kita sedang diuji sejarah, apakah alumni tetap pada idealisme membela bangsa."

Renard melihat begitu banyak alumni Taruna Nusantara yang kini menduduki posisi penting di pemerintahan. Ia bertanya: apakah pemerintah bisa menjadi lebih baik? Sejarah akan mencatatnya.

SMA Taruna Nusantara yang didirikan Jenderal Benny Moerdani 26 tahun lalu memang sengaja dirancang untuk mengader calon pemimpin nasional. Dengan banyaknya alumni SMA Taruna Nusantara yang tampil di pemerintahan saat ini, Renard menulis: Apakah ini bentuk politik identitas baru berbasis almamater atau justru merupakan manifestasi dari kontribusi almamater terhadap kepemimpinan nasional?