Ketergantungan kita pada koneksi internet baru benar-benar terasa begitu roda pesawat menyentuh landasan di Vladivostok. Meski paket roaming internasional untuk operator Telkomsel sudah diatur jauh hari dari Surabaya, layar ponsel tetap saja menolak menampilkan sinyal. Sebuah kegelisahan instant muncul; bagaimana bisa survive tanpa alat komunikasi di negeri orang?

Beruntung, pintu imigrasi Rusia terbuka dengan cepat. Prosesnya berjalan lancar tanpa formulir rumit atau interogasi yang menakutkan—kurang dari dua menit paspor sudah berstempel. Namun, masalah utama tetap sinyal. Konter kartu SIM lokal masih tutup mengingat waktu baru menunjukkan pukul 06.00 pagi.

Sebuah solusi tak terduga muncul dari loket informasi. Seorang petugas tanpa seragam—terkesan baru bangun tidur—berdialegka dalam bahasa Mandarin. Ternyata, ia menyediakan kartu SIM lokal. Transaksi yang menarik terjadi di sini: pembayaran dilakukan menggunakan mata uang Renminbi, bukan Rubel. Di Vladivostok, mata uang Tiongkok ternyata berlaku. Setelah kartu terpasang menggantikan kartu lama dari Madinah, sinyal penuh akhirnya muncul. Lega. Pesan singkat pertama langsung dikirim ke Beijing, mendapat balasan yang menghangatkan hati.

Melangkah keluar bandara, tantangan berikutnya adalah bahasa. Tulisan beraksara Kiril membuat pengunjung asing merasa seperti buta huruf. Teknologi kembali menjadi penolong; aplikasi penerjemah di ponsel memungkinkan komunikasi dengan sopir taksi berjalan lancar meski saling tidak tahu bahasa. Tujuan adalah hotel terbaik di pusat kota.

Harga taksi sebesar Rp900.000 awalnya membuat kening berkerut, namun sedikit terobati setelah melihat armada yang disediakan: Toyota Alphard. Selain itu, perjalanan ke pusat kota memakan waktu hingga satu jam mengingat bandara terletak jauh di luar kota. Setelah melalui kesalahpahaman alamat awal, sopir akhirnya mengantar ke hotel yang tepat berlokasi di pinggir laut, tepat di seberang jembatan laut yang membentang tinggi, mirip Jembatan Suramadu di Madura.

Check-in dilakukan tanpa reservasi atau sistem "go show" pada pukul 09.00. Kamar tersedia, namun dengan tarif mendadak yang jelas tinggi. Untuk berhemat, opsi check-in awal dengan tambahan biaya setengah hari ditolak. Tas dititipkan dan waktu dimanfaatkan untuk berjalan kaki ke Monumen Perang Dunia Kedua yang terletak tak jauh dari sana. Suhu udara 23 derajat Celcius terasa sangat nyaman, apalagi jika dibandingkan dengan musim dingin di kota ini yang bisa mencapai minus 35 derajat.

Di area monumen, sebuah kejutan historis menanti. Terdapat monumen kapal selam atau "monkasel", sebuah pemandangan yang sangat mirip dengan apa yang ada di Surabaya. Dugaan ini bukan tanpa alasan. Vladivostok dan Surabaya memang punya hubungan historis sebagai basis angkatan laut. Dahulu, banyak personel TNI AL dikirim ke sana untuk pendidikan dan pelatihan. Kapal selam yang menjadi monument di Surabaya pun merupakan buatan galangan kapal di Vladivostok. Bedanya, kapal di Rusia adalah sisa Perang Dunia II, sedangkan di Surabaya adalah kapal era operasi Trikora tahun 1950-an.

Seorang petugas jaga di monumen bahkan dengan antusias menanyakan keberadaan turis asal Indonesia. Ia mengenang kunjungan perwira tinggi TNI AL di masa lalu dan bahkan menunjukkan foto-foto pertemuannya tersimpan di dalam ponselnya.

Siang hari, area kini semakin ramai didatangi bus wisata. Sekitar 90 persen pengunjung adalah warga keturunan Tiongkok. Sepasang suami istri pensiunan BUMN asal Provinsi Shandong berbagi cerita tentang perjalanan mereka: menaiki kereta api selama dua hari dua malam ke kota perbatasan terdekat, lalu melanjutkan dengan bus menyeberang perbatasan.

Sang suami mengenalkan diri sebagai seorang konten kreator atau "TikToker", lengkap dengan kamera khusus yang tersemat di dadanya. Ia mengaku membuat konten bukan untuk uang, melainkan untuk kepuasan pribadi. Ia bahkan membagikan akun TikToknya: 804471982. Bagi mereka dan banyak wisatawan Tiongkok lainnya, kunjungan ini sarat akan muatan emosional. Wilayah Vladivostok dulu adalah bagian dari wilayah mereka. "Sedih," ujarnya singkat. Melalui lensa kamera, mereka mendokumentasikan kondisi wilayah yang dahulu mereka anggap milik leluhur, sebuah laporan perjalanan untuk konsumsi publik di negeri asal mereka.