Gejolak pasar modal nasional sempat diwarnai kejutan besar ketika kendali PT Bayan Resources berpindah tangan. Perusahaan tambang batu bara raksasa itu kini dikuasai Haji Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, pengusaha asal Kalimantan Selatan keturunan Bugis Makassar, dari tangan Low Tuck Kwong. Transaksi kilat ini memicu spekulasi menarik, terutama ketika Presiden Prabowo Subianto disebut-sebut berpotensi meneladani strategi ekonomi yang pernah diterapkan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad.

Rekayasa Pasar Saat Libur Bursa

Untuk memahami paralelisme tersebut, kita perlu menengok kembali ke tahun 1981. Saat itu, Mahathir memulai langkah diplomasi ekonominya dengan mengambil alih perusahaan perkebunan terbesar milik Inggris di Malaysia, Guthrie Plantation. Aksi ini dilanjutkan pada tahun berikutnya dengan akuisisi Golden Hope dan Sime Darby. Namun, nama Mahathir tidak muncul secara terang-terangan dalam transaksi yang menghebohkan dunia tersebut. Ia mempercayakan eksekusi strategi kepada dua profesional perbankan kredibel, Tun Ismail Mohamad Ali yang menjabat Gubernur Bank Sentral Malaysia, dan Abdul Khaled Ibrahim selaku CEO BUMN Malaysia.

Strategi yang dikenal sebagai "Dawn Raid" atau Serangan Fajar ini berlangsung sangat rapi dan mendadak. Pada Jumat, 4 September 1981, saham Guthrie di London Stock Exchange masih normal pada level 662 sen Poundsterling. Memanfaatkan masa libur bursa pada Sabtu dan Minggu, tim yang dipimpin Ibrahim mengadakan pertemuan rahasia dengan sejumlah broker saham di London. Secara terpisah dan terselubung, para broker ini menghubungi pemegang saham Guthrie satu per satu untuk menawarkan pembelian dengan harga yang sangat menggiurkan, yakni 30 persen lebih tinggi dari harga pasar. Keputusan berani ini berbuah manis. Saat pasar dibuka kembali pada Senin pagi, 7 September 1981, dunia dikejutkan dengan fakta bahwa kepemilikan mayoritas Guthrie sudah beralih ke tangan pribumi Malaysia.

Nasionalisme yang Ramah Pasar

Aksi Mahathir ini memiliki makna simbolik yang mendalam bagi Malaysia, karena berhasil mengembalikan kendali atas 800 kilometer persegi tanah yang sebelumnya dikuasai asing. Yang menarik, nasionalisasi ini tidak membuat harga saham Guthrie jatuh. Justru sebaliknya, valuasi saham terus merangkak naik, sama seperti yang terjadi pada saham Bayan Resources pasca akuisisi oleh Haji Isam. Premium harga yang dibayar saat pengambilalihan terbukti tertutupi oleh kenaikan performa dan valuasi pasar di kemudian hari.

Keberhasilan model ini terletak pada pendekatannya yang profesional dan berbasis mekanisme pasar. Tidak ada nasionalisasi paksa, perampasan hak, maupun sentimen anti-Barat yang berlebihan. Inggris mungkin terkejut karena perusahaan yang didirikan sejak 1821 itu lepas, namun mereka tetap mengakui transaksi tersebut sebagai langkah yang fair, wajar, dan legal. Ini adalah kontras tajam dibandingkan dengan apa yang pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1950-an. Saat itu, nasionalisasi perusahaan Belanda dilakukan secara sepihak, yang berujung pada lahirnya BUMN yang kerap salah urus dan sarat masalah korupsi.

Jejak Profesional di Balik Layar

Kunci dari keberhasilan Serangan Fajar Mahathir adalah penunjukan pelaksana yang benar-benar kompeten. Tun Ismail Ali, misalnya, adalah lulusan Cambridge yang mengerti betul budaya pasar modal London karena pernah tinggal lama di sana. Profesionalisme inilah yang memastikan rencana strategis berjalan tanpa memicu guncangan ekonomi yang berarti bagi Malaysia. Lima tahun setelah peristiwa itu, Guthrie bahkan mencatatkan sejarah baru dengan keluar dari bursa saham London dan pindah ke Kuala Lumpur.

Kini, sorotan tertuju pada dinamika ekonomi dalam negeri. Apakah Haji Isam berperan serupa dengan figur-figur profesional di balik aksi Mahathir dahulu? Ataukah langkahnya membeli 62 persen saham Low Tuck Kwong di Bayan Resources dengan nilai fantastis tersebut murni merupakan manuver bisnis pribadi? Terlepas dari spekulasi politik, transaksi ini menegaskan bahwa pengambilalihan aset strategis dapat dilakukan dengan cara-cara yang elegan dan menguntungkan bagi kedua belah pihak, tanpa perlu konflik berkepanjangan.