Di tengah hujan deras yang menyambut kedatangannya di Ottawa, Dahlan Iskan tersenyum mengingat perjalanan bisnis ke Semarang sebulan sebelumnya. Tur bisnis yang digelar Disway itu membawa peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari wanita yang meninggalkan karir gemilang di bank Amerika untuk menjadi pengusaha, hingga pebisnis dengan omzet ratusan miliar yang menjalankan bisnis sosial.
\n\nPesan di Pabrik Jamu
\n\nPerjalanan tur bisnis tersebut berakhir di pabrik jamu farmasi Sido Muncul yang terletak di Ungaran, selatan Semarang. Para peserta disambut langsung oleh pimpinan tertinggi Sido Muncul, Irwan Hidayat. Setelah melihat-lihat proses produksi, rombongan dijamu makan siang spesial di pendapa bergaya Jawa yang terletak di tengah hutan kecil, terpisah dari area pabrik.
\n\nSalah seorang manajer Sido Muncul masih ingat ketika Dahlan Iskan menanam pohon kayu manis di lokasi tersebut lebih dari 12 tahun yang lalu. Kala itu, Dahlan tengah menggalakkan penanaman empon-empon di sekitar hutan jati Perhutani. Kini, pohon-pohon yang dulu ditanam telah tumbuh besar dan hutan di sekitar pendapa terlihat rimbun.
\n\n"Di dalam sana ada 14 harimau," ujar Irwan Hidayat bangga. Hewan-hewan lain juga dilestarikan dalam hutan yang dikelola perusahaan jamu tersebut. "Kalau binatang saja disayang, apalagi orang yang minum Tolak Angin dan Kuku Bima Ener-G," tutur Irwan dengan filosofis.
\n\nMenghadapi Hoax dengan Kebijaksanaan
\n\nDi balik kesuksesan bisnisnya, Irwan menghadapi tantangan berupa berita hoax yang kerap menjelekkan Sido Muncul. Alih-alih marah atau melapor ke polisi, Irwan memiliki pendekatan berbeda.
\n\n"Ada saja hoax yang menjelekkan Sido Muncul," kata Irwan. Namun, ia tidak pernah mau menanggapi hoax tersebut. Ia justru memilih untuk terus memperbaiki diri dengan cara menutup celah kesalahan sekecil apa pun, baik dalam produksi maupun dalam menjaga lingkungan.
\n\nSalah satu langkah konkret yang diambil adalah membangun laboratorium modern dan mahal. "Agar kalau ada hoax soal mutu Sido Muncul langsung diadakan uji lab yang sangat ilmiah," jelasnya. Alhasil, Sido Muncul kini menjadi satu-satunya industri jamu yang memiliki laboratorium setingkat farmasi, bahkan lebih tinggi dari sebagian perusahaan farmasi lainnya.
\n\nSuatu ketika, Irwan penasaran dengan pembuat hoax yang beredar tentang produknya. Ia mencari tahu siapa orang tersebut dan apa latar belakangnya. Setelah berhasil menemukannya, Irwan tidak membawanya ke ranah hukum. Ia justru mengundang sang pembuat hoax ke pabrik Sido Muncul dan menunjukkan modernitas pabrik serta peralatan laboratoriumnya.
\n\n"Jauh sebelum itu saya sudah punya keyakinan hoax tidak mungkin dilakukan oleh perusahaan pesaing. Pengusaha tidak mau melakukan itu," ujar Irwan. Ternyata benar, yang membuat hoax bukanlah pesaing atau pedagang, melainkan seorang ibu rumah tangga biasa yang ternyata juga merupakan konsumen setia produk Tolak Angin bersama suaminya.
\n\nSetelah melihat langsung proses produksi di pabrik, sang ibu akhirnya mencabut postingannya. Motifnya sederhana: "Menjelekkan perusahaan terkenal akan ikut terkenal." Prinsip spontan itu kemudian disesalinya karena telah membuat kerusakan.
\n\nPromosi Lewat Kebaikan
\n\nKeputusan Irwan tidak melaporkan ibu tersebut ke polisi mencerminkan kepribadiannya yang tidak ingin mencari musuh. Baginya, promosi Sido Muncul sebaiknya dilakukan melalui jalan kebaikan, seperti menyelenggarakan operasi katarak, operasi bibir sumbing, atau mudik Lebaran bersama.
\n\n"Kalau toh promosinya tidak berhasil sudah meninggalkan kebaikan. Daripada promosi yang gagal dan tidak meninggalkan apa-apa," tutur Irwan.
\n\nPrinsip untuk menghindari konflik ini tercermin dalam lukisan besar yang dipasangnya di dinding lobi Hotel Tentrem Semarang miliknya. Lukisan itu menggambarkan seorang ibu Tionghoa yang menasehati anaknya tentang pentingnya kebijaksanaan dalam hidup.
\n\n\n\n\nDi suatu zaman, seseorang datang ke pasar membeli kain. Empat meter dengan harga 50 per meter. Si pembeli hanya membayar 150, padahal menurut si penjual 4×50 = 200. Keduanya ngotot merasa paling benar. Mereka pun mendatangkan kepala desa untuk menjadi penengah. Kepala desa sepakat dengan penjual bahwa 4×50 = 200, tapi si pembeli tetap ngotot hasilnya 150.
\n
Akhirnya, kepala desa dan pembeli sepakat membawa masalah ini kepada orang yang paling bijaksana saat itu, Konghuchu. Mereka bertaruh: jika pembeli yang salah, lehernya akan dipotong; jika kepala desa yang salah, ia akan kehilangan jabatan.
\n\nDi hadapan Konghuchu, keduanya tetap pada pendapatnya masing-masing. "Nabi Konghuchu, 4×50 itu berapa?" tanya kepala desa.
\n\n"150," jawab Konghuchu.
\n\nKepala desa tentu saja protes keras. Tapi Konghuchu menjelaskan: "Sebetulnya yang benar adalah 200, tapi kalau saya jawab begitu akan ada satu orang yang mati."
\n\nKisah ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan terkadang membutuhkan pengorbanan. Rakyat baiknya bijaksana seperti Konghuchu saat melihat ada langkah yang dianggap salah.
", "category_slug": "umum" }


