Keputusan hakim menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara kepada Nadiem Makarim datang saat saya sedang berada di Niagara. Seru sekali. Sejak persidangan kasus ini dimulai, diskusi berkualitas tinggi telah mengemuka di grup WhatsApp para jurnalis senior, SW60+.

Saya mengikuti perdebatan tersebut dengan saksama. Terutama debat antara mantan Pemimpin Redaksi TEMPO, Bambang Harimurti (BHM), dengan Arya Gunawan, eks wartawan Kompas.

BHM tampak cenderung membela mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Presiden Jokowi periode kedua itu.

Arya sendiri memiliki jejak karir mengesankan: tujuh tahun bergabung dengan Kompas setelah lulus dari ITB, kemudian melanjutkan ke BBC London selama lima tahun. Pria berdarah Jambi-Minang itu kemudian bekerja untuk UNESCO di Wina, Austria, dan kini menetap di Jakarta.

Kualitas perdebatan di grup tersebut begitu tinggi hingga saya terpikir untuk menyiarkan isinya di rubrik Disway. Namun, pembicaraan di grup WhatsApp bersifat privat dan tidak boleh keluar dari lingkungan anggota. Saat ini saya sedang mencari cara untuk berbagi konten polemik tersebut kepada pembaca Disway, termasuk meminta izin kepada para pihak yang terlibat.

Debat Hukum dan Jurnalisme

Pembahasan di grup tersebut sarat dengan nuansa hukum dan jurnalisme. Diskusi mencakup perbedaan antara fakta persidangan dengan asumsi, konsep mens rea, asas praduga tak bersalah, batasan antara fitnah dengan analisis interpretasi berbasis fakta, serta dilema penghakiman pers dan potensi konflik kepentingan.

Sebelum terlibat dalam polemik ini, saya telah banyak membaca tulisan Agustinus Edy Kristianto—juga seorang mantan jurnalis—yang dikenal sangat kritis dalam mengulas kasus Chromebooks. Bahkan sebelumnya, Agustinus sudah kerap mengkritisi GoTo serta investasi Telkom di dalamnya, termasuk praktik perdagangan saham, merger, dan pelaporan keuangannya.

Polemik ini telah menjadi begitu menarik bagi saya hingga membuat saya sulit benar-benar menikmati keindahan Niagara. Di taman dekat air terjun, saya lebih banyak sibuk membaca daripada menatap kemegahan air terjun kembar di hadapan mata.

Nuansa di Grup Wartawan Senior

Meski banyak pendapat dari wartawan senior lain yang saya baca, perhatian utama saya tetap tertuju pada perdebatan antara BHM dan Arya Gunawan. Grup WA SW60+ ini benar-benar menarik. Sejak bergabung, saya hanya memposting dua kali, dan keduanya tidak ada hubungannya dengan kasus Nadiem Makarim.

Postingan pertama saya hanya berupa dukungan moral kepada seorang rekan wartawan tua yang diharuskan segera operasi empedu berdasarkan saran dokter.

Postingan kedua berisi kekhawatiran saya saat grup 'Wartawan 60+' ini baru terbentuk: apakah grup ini akan sama seperti grup WA lainnya yang lebih banyak diisi postingan doa, ajakan salat tahajud, dan pengingat waktu sholat subuh.

Saya mengusulkan agar grup baru ini melarang jenis postingan semacam itu. Bukan karena saya anti dengan konten keagamaan, tetapi karena hal serupa sudah banyak tersedia di grup lain. Biarlah setiap grup memiliki ciri khas masing-masing.

Apalagi doa dan ajakan salat yang dibagikan bukanlah tulisan orisil anggota, melainkan hanya reposting dari grup lain. Membacanya terasa seperti mendengar lantunan Quran dari masjid yang ternyata kosong—hanya rekaman digital yang berbunyi otomatis saat waktu sholat tiba.

Banyak anggota grup yang ternyata setuju dengan pandangan saya. Bahkan ucapan selamat tahun baru pun diatur. Jika setiap anggota mengucapkan selamat ulang tahun kepada semua yang berulang tahun di grup, tentu akan menjadi sangat monoton. Dengan 193 anggota, berarti setiap dua hari ada saja yang berulang tahun. Oleh karena itu, ucapan ulang tahun sebaiknya disampaikan langsung ke nomor pribadi yang bersangkutan.

Suara dari Jurnalis Kelas Dunia

Dari luar grup, saya juga menyimak tulisan Tom Wright, seorang jurnalis hebat kelas dunia yang membela Nadiem. Tom adalah wartawan asal Inggris yang kini tinggal di Hong Kong.

Anda pasti mengenal Tom: jurnalis yang menjadi finalis penghargaan Pulitzer berkat investigasinya pada kasus korupsi 1MDB di Malaysia—salah satu skandal terbesar di dunia. Investigasi Tom begitu brilian hingga melintasi negara, membuat Perdana Menteri Tun Najib, istrinya, serta kroni-kroninya jatuh dan akhirnya mendekam di penjara.

Tom kemudian menulis buku terkenal Billion Dollar Whale yang pasti pernah Anda baca. Buku tersebut ditulisnya saat berada di Jakarta. Tom yang masih berusia di bawah 50 tahun ini memulai karir jurnalismenya di Jakarta sebagai koresponden harian The Wall Street Journal.

Tom tergolong whale hunter—pemburu ikan paus. Targetnya adalah figur-figur besar dengan risiko yang setara.

Saat ini, Tom sedang menghadapi gugatan dari seorang tokoh politik-keuangan Thailand terkait investigasinya tentang judi online di Kamboja dan praktik penipuan di dalamnya. Sang tokoh bahkan langsung meletakkan jabatannya sebagai menteri keuangan sehari setelah Tom mempublikasikan hasil investigasinya.

Tom Wright dan Kasus Nadiem

Dalam kasus Nadiem, Tom memberikan pembelaan. Ia menyebut Nadiem sebagai korban upayanya memberantas korupsi di Kemendikbud.

Tom heran mengapa Google tidak bersuara padahal Nadiem adalah partner terpercaya mereka. Dalam tulisannya, Tom menyoroti bahwa Google telah disebut dalam vonis pengadilan terkait dugaan suap saat Kemendikbud membeli 1,1 juta Chromebook yang menurut hakim merugikan negara sebesar Rp 1,5 triliun.

Nadiem tidak hanya dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara dan langsung ditahan kembali, tetapi juga diwajibkan mengembalikan uang negara sebesar Rp 800 miliar lebih—dengan catatan 'lebih' yang berarti Rp 9,59 miliar.

Tom tampaknya curiga Google enggan bersuara untuk melindungi kepentingan bisnisnya di Indonesia.

Para wartawan senior ternyata banyak yang belum mau pensiun. Mereka terus menulis dengan karya-karya berkualitas tinggi. Banyak tulisan mereka yang saya salin untuk disimpan.

Antara Niagara dan Polemik

Di Niagara pun saya menulis, bukan menikmati pemandangan. Padahal seharusnya saya bisa menuliskan betapa Niagara di sisi Kanada jauh lebih ramai dibandingkan Niagara di sisi Amerika.

Dari sisi Amerika, pengunjung hanya bisa melihat sisi air terjun. Pihak Amerika bahkan membangun jembatan wisata yang hanya mencapai tengah sungai agar wisatawan bisa melihat air terjun dari posisi yang lebih baik. Namun, pandangan itu tetap tidak sebaik jika dilihat dari wilayah Kanada.

Oleh karena itu, saya menyeberang ke Kanada dengan berjalan kaki melalui jembatan antarnegara di atas sungai yang juga bernama Niagara.

Jembatan itu diberi nama Rainbow Bridge karena dari sanalah pelangi yang muncul dari jatuhan air terjun Niagara bisa terlihat jelas.

Begitu menginjak daratan Kanada, kebenaran menjadi nyata: kedua air terjun Niagara memang menghadap ke Kanada. Dua-duanya. Yang besar dan yang sangat besar. Yang lurus dan yang berbentuk huruf U. Tak heran jika turis yang berkunjung ke Niagara di sisi Kanada jauh lebih banyak daripada di sisi Amerika.

Niagara memang menakjubkan, tetapi polemik antara BHM dan Arya Gunawan di SW60+ ternyata jauh lebih menarik bagi saya.