Perjalanan menuju Buffalo seharusnya menjadi pengalaman indah. Namun, lima kabar duka yang masuk ke telepon genggam seolah mengganggu keindahan itu. Yang paling menyayat hati adalah kabar tentang dokter Icha yang mengakhiri hidupnya setelah menghadap tekanan dari dua anggota DPRD di Nusa Tenggara Timur.
Bu Muslimah, sosok guru legendaris dalam film Laskar Pelangi, juga tutup usia di Belitung. Lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih meninggal saat menjalani latihan militer. Tak ketinggalan, tetangga lama penulis, Prof Anton Prijatno SH, Ketua Yayasan Universitas Surabaya (Ubaya) yang juga mantan rektor, juga berpulang.
Kisah Dokter Icha
Di tengah perjalanan yang memanjang sepanjang sungai Susquehanna yang jernih, berita tentang dr Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dokter Icha terus terngiang. Usianya masih 27 tahun, berparas cantik eksotis, dan baru saja lulus dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang pada 2022.
Malang tak dapat ditolak, nasibnya berakhir tragis. Semuanya bermula ketika Icha bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Pemkab TTU-lah yang memberikan beasiswa pendidikan kepadanya.
Kronologi Tragedi
Suatu malam, seorang anak dibawa ke IGD RS Leona setelah digigit ular. Dokter Icha dengan teliti melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi dengan seniornya. Hasilnya, anak tersebut tidak dalam keadaan bahaya karena tidak semua ular berbisa, dan meskipun berbisa, tidak semuanya memiliki racun yang kuat.
Namun, dua orang anggota DPRD di Kefamenanu yang merupakan keluarga pasien mendatangi IGD. Mereka menekan dokter Icha agar memberikan obat antivenom meski medis tidak mengindikasikannya. Apalagi, obat tersebut memang tidak tersedia di rumah sakit.
Obat infus antivenom memang tergolong mahal, bisa mencapai Rp3 juta. Karena itu, tidak semua fasilitas kesehatan memiliki stok. Dalam kasus ini, anak yang digigit ular pun tidak memerlukan obat tersebut.
Esok harinya, dokter Icha kembali bertemu dengan kedua anggota DPRD tersebut di RS Leona. Merasa tertekan, ia memutuskan pulang ke Kupang. Perjalanan lima jam tersebut dilakukan dalam kondisi lemah dan tertekan. Icha kemudian dibawa ke rumah sakit untuk penanganan masalah kejiwaannya.
Setelah kondisinya membaik, Icha diizinkan pulang dengan jadwal kontrol seminggu kemudian. Namun, saat tiba waktu kontrol, Icha tidak muncul. Telepon dari pihak rumah sakit tidak direspons. Di rumah, orang tuanya masih bekerja. Adiknya yang juga seorang dokter menemukan Icha sudah meninggal dalam kondisi gantung diri di lantai atas.
Warisan Tragis
Di kamar sang adik, polisi menemukan dua ponsel dan sebuah surat tertutup yang hingga kini masih diselidiki. Keluarga belum sempat membaca isi surat tersebut. Namun, meski masih junior, Icha termasuk dokter yang teguh memegang kode etik profesinya.
Salah satu pilar penting yang menjadikan dokter sebagai sebuah profesi—bukan sekadar pekerjaan—adalah otonomi. Seorang dokter memiliki otonomi untuk melakukan atau menolak melakukan tindakan medis berdasarkan pertimbangan profesional. Mereka harus melakukan tindakan medis meski ditekan untuk tidak melakukannya. Sebaliknya, mereka juga harus menolak meski ditekan untuk melakukan, bahkan jika yang dipertaruhkan adalah jabatan atau nyawa.
Dokter Icha mempertaruhkan profesinya sampai ke nyawa. Di mata saya, Icha adalah pahlawan profesi. Banyak profesi lain tidak lagi punya pahlawan, tulis Dahlan Iskan.
Di dunia kewartawanan, kian sulit mencari sosok seperti Icha yang mempertahankan integritas profesinya. Begitu pula di profesi pengacara atau hakim. Apalagi, anak yang digigit ular itu akhirnya sembuh tanpa antivenom, membuktikan keputusan medis Icha adalah benar.
Saat berita ini diturunkan, kedua anggota DPRD tersebut membantah melakukan tekanan. Mereka mengakui berbicara keras kepada Icha tapi menyangkal ada niat menekan. Keduanya juga sudah meminta maaf, sementara keluarga Icha memilih tidak memperkarakan masalah ini lebih lanjut bahkan menolak otopsi.
Namun, latar belakang peristiwa ini perlu dikaji lebih dalam. Sepanjang perjalanan lima jam ke Buffalo, semua berita duka tersebut seolah mempersingkat waktu. Ketika tiba di pusat kota Buffalo pada pukul 21.01, matahari belum tenggelam sementara bulan purnama sudah menampakkan diri di ufuk barat—perpaduan senja dan malam yang indah namun dibayangi kisah duka.
Bahkan di Buffalo, matahari tetap tenggelam di barat. (Dahlan Iskan)



